Beranda Nusantara Yayasan Jarum Capai Satu Juta Mangrove

Yayasan Jarum Capai Satu Juta Mangrove

Jakarta (ANTARA) – Dana Perlindungan Lingkungan Jarum mengatakan telah berhasil menanam lebih dari satu juta pohon bakau di pantai utara Jawa Tengah melalui program Djarum Trees for Life (DTFL) yang telah berjalan sejak 2008.

Wakil Presiden Direktur Djarum Foundation FX Supanji berharap pencapaian ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat agar merasa bertanggung jawab terhadap lingkungan saat menanam mangrove.

“Jutaan ini bukan apa-apa, tapi saya harap begitu. titik awal untuk tak berujung upaya kita untuk mencapai yang terbaik untuk Indonesia,” ujarnya saat konferensi pers Sejuta Mangrove for Life, Kamis.

Program DFTL mulai menanam bakau pada tahun 2008 di Mangkang Mangunharjo, Semarang, dan memulihkan ekosistem pantai sepanjang 2.700 meter di daerah tersebut. Penanaman masih berlangsung di Desa Mangkan untuk mencapai tujuan 3400 meter garis pantai.

Tahun depan, Djarum Foundation menargetkan Kabupaten Rembang sebagai salah satu dari sembilan kabupaten/kota di wilayah Jawa Tengah, dengan luas total 5.400 hektar hutan mangrove, untuk dikembalikan fungsinya.

Melalui program DFTL, Djarum Foundation juga bermitra dengan peneliti, penggiat lingkungan, ilmuwan dan masyarakat lainnya yang memiliki ketertarikan di bidang keilmuan penanaman dan penanaman mangrove.

“Konservasi mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam pelestarian ekosistem alam. Kita sudah melihat sendiri bagaimana beberapa tahun terakhir kawasan Mangkan relatif lebih aman dari ancaman banjir rob,” kata Supanji.

Perusahaan mengatakan, dampak ekonomi yang dirasakan warga Desa Mangkang cukup signifikan akibat DFTL, seperti tambak yang direstorasi karena sering rusak akibat abrasi air laut dan berkembangnya budidaya kerang hijau dan keramba jaring ikan.

Selain itu, warga juga bergerak di bidang pembuatan batik dengan pewarna alami dari pigmen mangrove, dan juga memproduksi sirup mangrove.

Mahavan Karuniasa, Ketua Umum Jaringan Pakar Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK), mengatakan bahwa penyelesaian masalah lingkungan harus dipertimbangkan tidak hanya dari sudut pandang ekonomi, tetapi juga dari sudut pandang etika dalam hal tanggung jawab masa depan perusahaan. keturunan.

“Kita tidak boleh lupa bahwa mangrove tidak hanya menghasilkan sumber daya untuk arang dan kayu — setiap provinsi biasanya berbeda dalam apa yang mereka konsumsi — tetapi juga jasa lingkungan,” katanya.

Mahavan mengatakan mangrove berfungsi sebagai ekosistem sebagai tempat berkembang biak ikan dan melindungi ikan dari predator. Tanpa mangrove, lanjutnya, pendapatan nelayan juga bisa tergerus oleh penurunan stok ikan.

“Bila mangrove hilang, berarti banyak ikan yang hilang di lautan yang tidak ditangkap oleh nelayan, dan kerugiannya bisa lebih besar lagi jika kita menghitung jasa lingkungan,” katanya.

Artikel sebelumyaHTI Lindungi Populasi Gajah Sumatera di Konsesi
Artikel berikutnyaPresiden: Segera Terapkan Energi Hijau untuk Generasi Mendatang