Beranda Nusantara Warga Bekasi senang ada busa seperti awan.

Warga Bekasi senang ada busa seperti awan.

Limbahnya berupa buih, seperti negeri di atas awan, bedanya awan ini berbau karena berasal dari puing-puing.

Kabupaten Bekasi (ANTARA) – Warga Desa Pelaukan, Desa Karangsetia, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dihebohkan dengan munculnya sampah busa yang menumpuk hingga menyerupai awan seperti wisata kenegaraan di atas Tebing Dieng Wonngobo. atau Kraton Tebing Bandu.

“Sampahnya seperti buih, seperti tanah di atas awan, bedanya awan ini bau karena berasal dari sampah,” kata Indra Lesman (36) warga setempat, Selasa di Cikaranga, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Indra mengaku, kemunculan sampah dimulai pada Selasa pagi pukul 05.30 WIB. Saat itu, ia akan memancing di sungai yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sungai Resmi. Sesampainya di tempat tersebut, Indra terkejut melihat keadaan air sungai yang dipenuhi buih.

Busa-busa itu semakin lama semakin besar, hingga berubah menjadi pegunungan dan menutupi seluruh badan sungai, seperti bumi di atas awan.

“Jadi ketika saya ingin pergi memancing, saya terkejut. Lalu apa itu, ketika saya mendekatinya, ternyata itu busa. Banyak dari mereka. Dari kejauhan terlihat seperti awan, itu bagus. Baunya saat didekati,” katanya.

Aliran sungai resmi di Desa Pelaukan, Desa Karangsetia, Kecamatan Karangapsa, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tertutup styrofoam pada Selasa (2/11). (ANTARA/Pradita Kurniavan Syah).

Indra mengaku aliran resmi Kali memang berbusa, namun tidak menutupi seluruh badan sungai dan bahkan mengubah warna air sungai sehingga menjadi lebih gelap dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

“Biasanya ada buih, tapi kalau banyak buih, baru tadi pagi. Saya terkejut. Kemudian airnya juga berwarna hitam, seperti ada noda minyak, dan berbau. Dia juga gatal karena saya berhasil turun ketika saya mengangkat kail, ”katanya.

Warga setempat lainnya, Songjaya (41), mengaku busa yang mencemari Sungai Dinas diduga mengandung minyak. “Kami juga takut masuk ke dalam, takut kenapa,” ujarnya.

Selain pencemaran Sungai Songjaya, dia juga khawatir limbah tersebut juga akan merusak persawahan, karena sungai yang tercemar itu merupakan sistem irigasi yang aliran airnya digunakan untuk mengairi sawah.

“Tanaman ini jelas menderita. Selain sawah, ada juga taman. Saya minta pemerintah (pemerintah), irigasi (pelayanan) memperhatikan. Ini bisa menjadi hitam seperti ini dan menjadi kotor dengan sampah. Saya tahu, ”katanya. …

Sementara itu, Camat Karanghappi Karnadi membenarkan bahwa Sungai Rasmi tercemar buih, hanya saja jumlah buihnya tidak sebesar pada kasus kejadian virus.

Carnadi telah mengkonfirmasi bahwa dia akan dapat melacak asal usul busa tersebut. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengawasi pencemaran tersebut.

“Biasanya ada busa, tapi tidak sebanyak itu. Nanti kita cek di lokasi untuk mengetahuinya,” ujarnya.

Artikel sebelumyaLPPM IPB University dan Glowing Tourism Research
Artikel berikutnyaLongsor di Lembang Blok Akses Cimahi-Bandung Barat