Beranda Nusantara Walikota: Banjir di Palembang akibat naiknya aliran sungai Bendung

Walikota: Banjir di Palembang akibat naiknya aliran sungai Bendung

Luapan air ini menggenangi sedikitnya 17 titik di kawasan Sungai Bendung yang terkena banjir.

Palembang (ANTARA) – Wali Kota Palembang, Sumatera Selatan, Harnojoyo mengatakan, ketinggian atau ketinggian antara hulu dan hilir Sungai Bendung yang cenderung datar menyebabkan beberapa titik tergenang air setelah hujan deras selama tiga tahun terakhir. hari. .

Harnojoyo di Palembang mengatakan, Jumat, Sungai Bendung merupakan salah satu anak sungai Musi yang memiliki luas 2.400 hektar di seberang ilir kota Palembang.

Sungai Bendung sendiri mengambil air dari beberapa cabang anak sungai lainnya yang mengalir ke Sungai Musi di Jalan Ali Gatmir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.

Cabang-cabang anak sungai terbesar yang mengalir melalui Sungai Bendung antara lain cabang dari daerah Sukavinatan, daerah Sukarami dan sekitarnya yang jaraknya hingga 5 kilometer dari muara.

Kemudian dari kawasan Bukit Sangkal kawasan Ilir Timur II dan sekitarnya yang berjarak sekitar 7 kilometer.

Sementara itu, menurut Harnojoyo, berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh PUPR Pemkot setempat, ketinggian Sungai Bendung dari hulu dan hilirnya hingga Sungai Musi hanya sekitar 40 sentimeter.

Dengan demikian, air di permukaan sungai Bendung tidak cepat mengalir ke hilir, ditambah hujan lebat dan berkepanjangan dari Selasa (10,04) hingga Kamis malam (10,06), sehingga aliran air yang disesuaikan terus berlanjut. tumbuh dan akhirnya meluap.

“Banjir yang menggenangi sedikitnya 17 titik di wilayah sekitar aliran Sungai Bendung yang terdampak banjir, lebih dari 500 warga merasakannya,” katanya.

Wilayah terdampak banjir antara lain MP Mangkunegara, Bukit Sangkal, Sesaat Putih, Rawa Sari, Celentang, Sekip, dengan ketinggian air mencapai 30-60 sentimeter hingga Kamis malam (6/10).

Harnojoyo mengatakan pemerintah berupaya mengatasi situasi bencana dengan menggunakan semua pompa air untuk mengalirkan air.

Enam pompa masing-masing portabel yang, per unit, mampu menyedot 250 liter per detik, didorong oleh setiap segel air, dan pemacu Di hilir, beroperasi pompa air berkapasitas 36.000 liter per detik.

Namun, lanjutnya, kinerja sistem pemompaan untuk mengalihkan air tersebut masih belum optimal, karena banyak ditemukan jembatan dan pemukiman warga di seberang Sungai Bendung, menurut pantauan beberapa hari terakhir.

“Kinerja pemompaan yang memadai ini masih lambat karena diperparah dengan pembangunan gedung, sehingga dampak banjir yang dirasakan warga tidak cepat teratasi,” ujarnya.

Pemompaan untuk mengurangi banjir yang membanjiri masyarakat, jalan protokol, perkantoran dan SPBU membutuhkan waktu 6-7 jam dengan rekor tidak akan ada lagi hujan.

Harnoyo mengatakan untuk mengatasi kondisi tersebut, pihaknya telah menyiagakan tim gabungan pengendalian banjir yang terdiri dari satuan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Dinas PUPR, Dinas Sosial dan Dinas Kebersihan Kota.

Tim tersebut menghadapi tugas mulai dari membersihkan puing-puing dan rumput liar dari daerah aliran sungai, menghancurkan pemukiman di atas sungai, mendirikan posko darurat, hingga merencanakan tindak lanjut jangka panjang seperti pembebasan lahan dan mendesain ulang jembatan di sepanjang Sungai Bendung.

Tim gabungan pengendalian banjir bertanggung jawab untuk waktu yang tidak terbatas, kata Harnojoyo, khusus menangani kerawanan banjir di Palembang pada musim hujan, yang diprediksi BMKG akan berlangsung hingga awal 2023.

Artikel sebelumyaPertamina Sei Pakning Bengkalis merintis program pengelolaan gambut
Artikel berikutnyaPemasangan wayang di Malioboro