Beranda Warganet Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) meminta Kementerian Agama memberikan kesempatan kepada...

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) meminta Kementerian Agama memberikan kesempatan kepada jemaah haji Indonesia untuk melakukan umrah.

Jakarta (ANTARA) – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid meminta Kementerian Agama RI memastikan calon jemaah haji asal Indonesia diperbolehkan menunaikan ibadah umrah setelah divaksinasi dengan Sinovac.

“Kepercayaan ini diperlukan setelah keputusan terbaru Kerajaan Arab Saudi pada Senin (7 Desember) yang memasukkan vaksin Sinovac dan Sinopharm dalam daftar vaksin yang diterima sebagai syarat masuk ke Arab Saudi. Kabar ini merupakan kabar baik untuk masa depan.“Jemaah haji akan mati dari Indonesia,” kata Hidayat dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Berita tersebut disiarkan oleh Menteri Agama Malaysia, Dr. Zulkifli M. Bakri, dan disiarkan melalui akun Twitter pribadinya kemudian disebarluaskan oleh Kantor Berita BERNAMA, Malaysia.

Oleh karena itu, Hidayat mengingatkan Menteri Agama Republik Indonesia untuk memastikan informasi haji dan umrah diterima, dan tidak terlambat.

“Menteri Agama dan jajarannya harus segera melakukan persiapan yang diperlukan dan berkomunikasi lebih efektif untuk mendapatkan jaminan dari Kerajaan Arab Saudi bahwa jemaah umrah dari Indonesia yang sudah dua kali divaksinasi Sinovak, dapat memasuki Tanah Suci untuk melaksanakan umrah setelah haji. Ibadah haji 1442 Hijriah,” ujarnya.

Ia juga meminta Kemenag berkoordinasi dengan Kemenkes terkait vaksinasi calon jemaah umrah dan haji.

Hal ini dikarenakan Saudi Gazzette (11/7) menyatakan bahwa meskipun vaksin Sinovac telah diakui oleh Arab Saudi, penerima 2 dosis vaksin Sinovac tetap harus menerima 1 dosis vaksin tambahan, katanya. disetujui oleh Arab Saudi, yaitu Pfizer, Astrazeneca, Johnson & Johnson dan Moderna.

“Kementerian Agama harus mencermati keputusan terbaru Arab Saudi agar dapat segera berkomunikasi secara efektif dan memastikan jemaah haji asal Indonesia yang sebagian besar mendapat vaksin Sinovac dapat meninggal dunia di Tanah Suci,” ujarnya. kata.

Hidayat yang juga anggota Komisi VIII DPR RI itu mengingatkan, penghapusan haji pada 1442 H seharusnya tidak berlaku bagi calon jemaah umrah.

Ia meyakini salah satu faktor yang diberitakan pemerintah Indonesia terkait pembatalan keberangkatan calon calon haji dari Indonesia adalah isu vaksin Sinovac yang tidak diterima di Arab Saudi.

“Faktor ini seharusnya tidak lagi menjadi alasan karena vaksin Sinovac telah mendapat persetujuan penggunaan dari WHO, diterima dan dapat digunakan sebagai syarat untuk masuk ke Arab Saudi,” katanya.

Hidayat juga meminta Kemenag bekerja sama dengan Kemenkes untuk memberikan tambahan dosis vaksin Astrazeneca dan Moderna bagi calon jemaah umrah yang menerima dua dosis vaksin Sinovac, jika memang dibutuhkan Arab Saudi.

Menurut dia, berdasarkan data yang ada, per 1 Juli 2021 Kementerian Kesehatan mengumumkan ketersediaan 9.226.800 dosis vaksin Astrazeneca dan 3 juta dosis vaksin Moderna. “Jumlah ini harus cukup untuk sebagian dialokasikan untuk calon jemaah umrah,” katanya.

Ia juga meminta Kementerian Agama untuk lebih efektif melakukan komunikasi dan upaya untuk meyakinkan pemerintah Saudi bahwa calon jemaah haji Indonesia yang telah menerima vaksin Sinovac yang diakui oleh Saudi dapat diizinkan untuk melakukan umrah di Tanah Suci.

Artikel sebelumyaPresiden menyaksikan vaksinasi serentak terhadap COVID-19 anak-anak sekolah di SMP dan SMA.
Artikel berikutnyaBanjir hantam Kapuas Hulu – Kalimantan Barat, jalan nasional ditutup