Beranda Nusantara Tapir yang terluka di Kuantan Singing berhasil diselamatkan oleh tim BBKSDA Riau.

Tapir yang terluka di Kuantan Singing berhasil diselamatkan oleh tim BBKSDA Riau.

Seekor mamalia herbivora (pemakan daun) ditemukan dengan mata yang rusak saat berkeliaran di sekitar taman milik seorang penduduk desa.

Kota Pekanbaru (ANTARA) – Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama tim medis menyelamatkan seekor tapir (Tapirus indicus) yang terluka dan berkeliaran di kebun warga di Desa Lubuk Ambakang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Singingi. (Quangsin) Kabupaten, Riau, Jumat (11/12).

“Untuk mengamankan satwa yang dilindungi, tim BBKSDA Riau bersama tim medis membawa mereka ke Pekanbaru untuk dirawat,” kata Kepala Pelaksana BBKSDA Riau Hartono kepada Pengurus Harian (Plh) di Pekanbaru, Minggu.

Ia mengatakan, penyelamatan itu dilakukan berdasarkan informasi dari warga sekitar yang melaporkan ada tapir pada malam hari, Jumat (11/12).

Ia menjelaskan, mamalia herbivora (pemakan daun) itu ditemukan dengan mata rusak saat berkeliaran di kebun milik seorang warga.

“Selain itu, pada Sabtu (13 November), tim dari KSDA Wilayah Rengat I diterjunkan ke lokasi untuk meninjau laporan tersebut. Kemudian tim medis dari pusat KSDA Riau di Pekanbaru juga terpantau,” ujarnya. …

Sesampai di lokasi, tim BBKSDA langsung sepakat dengan sekretaris desa Lubuk Ambakang, Imas, tentang luka tapir/chpan di kebun karet warga.

“Dilaporkan tapir itu muncul di kebun seorang warga bernama Said Hasim,” katanya.

Usai berdiskusi, rombongan bersama Sekdes dan beberapa warga setempat mendatangi lokasi yang dikabarkan sudah berada di sana selama kurang lebih 1 hari.

“Untuk menjaga kesehatan hewan, tim melindungi hewan di sekitar dan menyediakan air dan pakan dengan daun/kayu ubi jalar untuk pertolongan pertama,” kata Hartono.

Selain itu, Tim Medis BBKSDA Riau segera memberikan pertolongan medis atau pengobatan pada luka di sekitar tepi mata Tapir.

“Obat-obatan diresepkan untuk mencegah infeksi,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan identifikasi hewan tersebut diketahui bahwa tapir atau tsipan berjenis kelamin jantan, berumur sekitar 5 tahun, panjang 1 meter 20 sentimeter.

“Saat pertama kali tapir ditemukan dalam keadaan lemah, dan terdapat luka membusuk di tepi mata kanan. Pada saat yang sama, tapir berperilaku relatif jinak dan tidak takut dengan kedatangan orang-orang di sekitarnya, ” dia berkata.

Ia mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah membantu mengamankan tapir sebelum kedatangan tim BBKSDA Riau, sedangkan kelompok tidak melakukan pengobatan.

Selain itu, tim juga memberikan sosialisasi terkait satwa yang dilindungi, termasuk tapir, serta upaya penyelesaian konflik satwa liar.

“Kami berharap warga selalu berkomunikasi dengan pusat KSDA Riau terkait keberadaan satwa yang dilindungi,” ujarnya.

Saat pertolongan pertama diberikan, karena kondisi hewan yang terluka cukup parah, diputuskan untuk mengevakuasi tapir ke kandang transit hewan BBKSDA Riau agar dapat diproses secara intensif dan ditempatkan di kandang evakuasi yang disiapkan oleh tim dan dibawa ke kantor di Pekanbaru.

Beranjak dari lokasi, Minggu (14.11) dini hari sekitar pukul 1.15 WIB rombongan bersama tapir tiba di tempat transit/peliharaan hewan Balai KSDA Riau untuk perawatan lebih lanjut.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat dan semua pihak untuk tidak memasang jebakan dengan alasan apapun.

“Jika tertangkap, mereka akan dijerat dengan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dan bagi siapa saja yang menemukan pelanggaran atau hal-hal yang mencurigakan terkait perburuan/perdagangan satwa liar yang dilindungi, segera laporkan ke call center BBKSDA Riau di 081374742981, ”kata Hartono.

Artikel sebelumyaHujan ringan diperkirakan akan terjadi di sebagian besar kota besar.
Artikel berikutnyaBanjir di Kotim membanjiri 22 desa