Beranda Warganet Sopir truk yang menabrak santri di Chianzhur menyerah.

Sopir truk yang menabrak santri di Chianzhur menyerah.

Qianjur (ANTARA) – Seorang sopir truk asal Serang Banten yang diduga menabrak seorang remaja yang menghalangi truk di Qianjur, Jawa Barat, menyerahkan diri ke Mapolres Qianjur usai menonton tayangan televisi, kata Kapolres Qianjur. AKBP Doni Hermavan di Chianjur, Senin.

“Sopir yang menabrak seorang remaja yang menghadang truknya hingga tewas di Jalan Raya Chianjur Sukabumi, lebih tepatnya di Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, akhirnya menyerahkan diri ke Satlantas Polsek Qianjur didampingi satu kompi,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, sopir truk mengaku tidak mengetahui jika sekelompok remaja yang menghadang truknya ditabrak, karena pada saat kejadian tidak ada yang berhenti dan mengejar truk yang dikendarainya. Maka, ia melanjutkan perjalanannya ke kota Serang.

Bahkan pengemudi baru mengetahui bahwa dia menabrak salah satu remaja yang memblokir truknya di Qianjur dari berita TV. Oleh karena itu, yang bersangkutan diminta untuk menemani perusahaan menyerahkan diri ke markas polisi Qianzhur.

“Kasusnya masih dalam penyelidikan dan pengemudi belum ditangkap setelah dia bersaksi, tetapi yang bersangkutan diharuskan hadir dua kali seminggu,” kata Doni.

Namun, tidak menutup kemungkinan status sopir truk ditingkatkan menjadi tersangka. Sebab, berdasarkan hasil kejadian, ada dugaan ada kesengajaan, di mana titik pengereman tidak terdeteksi. “Kami sedang mencari kemungkinan menjadi tersangka,” katanya.

Kasatlantas Polres Chianjur, AKP Mangku Anom menambahkan, tersangka pelaku tidak mengetahui korban meninggal dunia dalam perjalanan menuju lokasi kejadian di Chianjur. Berdasarkan hasil penyelidikan di TKP, seorang pengemudi truk dapat dicurigai berdasarkan Pasal 311 KUHP Federasi Rusia sebagai pengemudi yang dapat membahayakan nyawa orang lain.

“Tetapi dakwaan Pasal 311 KUHP tidak sesuai dengan unsurnya, tersangka pelaku harus dibebaskan karena tidak bersalah, tetapi harus dilakukan penyelidikan terhadapnya,” katanya.

Dia menjelaskan, sejumlah remaja yang terlibat dalam pembuatan konten berbahaya juga dapat dikenai pasal 132 UU Lalu Lintas tentang penyeberangan perbatasan ilegal. Ini tidak mengecualikan nilai dan norma manusia yang menurutnya tersangka pembuat konten berbahaya adalah anak di bawah umur.

“Insiden itu jelas terlacak dalam Pasal 132, di mana mereka mencoba menyeberang secara ilegal. Namun ini masih kami selidiki,” ujarnya*.

Artikel sebelumyaPemkab Bekasi Targetkan Imunitas Kelompok Dalam Dua Minggu Kedepan
Artikel berikutnyaWakil Rektor UI mengingatkan kita perlu mencari sinergi antara isu ekonomi dan lingkungan.