Beranda Hukum Satgas Madago Raya sedang melakukan razia untuk mempersempit gerakan DPO Poso.

Satgas Madago Raya sedang melakukan razia untuk mempersempit gerakan DPO Poso.

Parigi Mutong (ANTARA) – Satgas Madago Raya melakukan razia dan pemeriksaan dalam perjalanan ke Dusun V Pegunungan, Desa Tanalanto, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Mutong, Sulawesi Tengah, Rabu untuk mengantisipasi pendukung teroris Poso yang memberikan dukungan logistik. Tolong.

“Razia berupaya mengantisipasi simpatisan yang mencoba membantu organisasi teroris Poso. Penggerebekan juga mempersempit pergerakan OLI dan pendukungnya,” kata Wakil Kepala Humas Madago Raya, AKBP Bronto Buriono, yang dihubungi di Poso.

Bronto mengatakan, razia dilakukan untuk mengantisipasi para simpatisan yang masih memberikan bantuan logistik dan informasi kepada OI yang tergabung dalam kelompok Mujahidin Poso Indonesia Timur (MIT). Setiap warga yang melintasi Jalur Pendakian Gunung Desa Tanalanto akan diperiksa, mulai dari mobil hingga barang bawaan.

“Tanpa kecuali, kami memeriksa apa yang mereka bawa dan ke mana mereka pergi,” katanya.

Selain razia, jajaran TNI/Polri yang tergabung dalam Satgas Madago Raya di Posko Tanalanto Sekat mengimbau petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan empat DPO yang diduga masih berada di Parigi Moutong, Kabupaten Poso, dan Sigi.

“Kami melakukan razia dan juga menghimbau kepada masyarakat khususnya petani untuk tetap waspada dan berhati-hati di kebun,” ujarnya.

“Hasilnya, kami tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan,” tambahnya.

Bronto menjelaskan, razia serupa juga dilakukan di wilayah operasional lain yang diyakini sebagai tempat persembunyian OI.

“Beberapa bulan lalu, Satgas Madago Raya berhasil melumpuhkan Qatar dan pengikutnya di pegunungan Torué, sehingga pengawasan dan pengamanan tambahan harus dilakukan di wilayah ini,” jelasnya.

Satgas Madago Raya mengedarkan foto wajah empat ROI di beberapa wilayah di wilayah operasi, termasuk pemasangan baliho di wajah empat ROI.

“Fokusnya adalah menunjukkan wajah untuk memudahkan orang mengenali penyandang disabilitas,” kata Bronto.

Empat kelompok teroris Poso tersebut adalah Askar yang akrab dipanggil Jayd bernama Pak Guru, Naye bernama akrab Galukh, berjuluk Mukhlas, Ahmad Ghazali berjuluk Ahmad Panjang, dan Sukhardin berjuluk Hasan Pranata. “Dua warga Bina, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan dua warga Poso Regensi, Sulawesi Tengah lainnya,” jelas Bronto.

Bronto berharap keempat DPO tersebut menyerahkan diri untuk diproses secara hukum. “Kami meminta warga bekerjasama untuk melaporkan jika melihat orang yang mencurigakan atau terlihat seperti penyandang disabilitas,” ujarnya.

Artikel sebelumyaChoi Woo Shik dan Kim Da-mi berbagi kesan mereka "Musim panas favorit kami"
Artikel berikutnyaPangdam Pussansiad mengajak masyarakat untuk menjaga cyber defense di Indonesia