Beranda Warganet Rejang Lebong-Enggano, dua bahasa daerah di Bengkulu terancam punah

Rejang Lebong-Enggano, dua bahasa daerah di Bengkulu terancam punah

Dari ketiga bahasa daerah tersebut, Rejang dan Enggano terancam punah, sedangkan bahasa Melayu Bengkulu, misalnya di wilayah Serawai, Pesema dan Mukomuko, masih relatif aman.

Bengkulu (ANTARA) – Kepala Dinas Bahasa Bengkulu Yanti Riswara mengatakan dua bahasa daerah dari Provinsi Bengkulu, yakni bahasa daerah Rejang dan Enggano terancam punah berdasarkan hasil kajian gaya hidup saat ini.

“Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyebutkan ada 11 bahasa daerah yang terancam punah, termasuk dua bahasa daerah asal Benkulu, yaitu Rejang dan Enggano,” katanya di Bengkulu, Kamis.

Kantor Bahasa Bengkulu adalah Unit Teknis Pelaksana (UPT) Badan Pengembangan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Dikatakannya, berdasarkan hasil pemetaan bahasa yang dilakukan oleh otoritas bahasa dan pusat/kantor bahasa di seluruh Indonesia, terdapat tiga bahasa daerah di Provinsi Bengkulu, yaitu Bahasa Rejang, Bahasa Melayu Bengkulu dan Bahasa Enggano.

“Dari tiga bahasa daerah itu, Rejang dan Enggano terancam punah, sedangkan bahasa Melayu Bengkulu, misalnya di wilayah Serawai, Pesema dan Mukomuko, masih relatif aman,” katanya.

Saat ini, kata dia, selain Rejang dan Enggano, bahasa daerah lain yang terancam punah terutama berasal dari Indonesia bagian timur, yakni Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Oleh karena itu, pihaknya berharap agar dua bahasa daerah Enggano dan Rejang yang merupakan bahasa asli penduduk Provinsi Bengkulu tidak hilang seiring berjalannya waktu.

“Untuk mencegah hilangnya bahasa daerah di Bengkulu, masyarakat harus menghidupkan kembali bahasa daerah dengan melakukan upaya agar generasi muda tetap menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dijelaskannya, ada tiga faktor utama agar bahasa tidak punah, yaitu: pertama, pengajaran muatan lokal bahasa daerah, kedua, setiap keluarga kembali menggunakan bahasa daerah di keluarganya masing-masing, dan ketiga, pemerintah. sedang melakukan berbagai upaya. mendukung pelestarian bahasa daerah dengan membuat program – program pengembangan bahasa daerah, termasuk pembuatan kamus.

“Dengan melakukan tiga hal ini, bahasa daerah Rejang dan Enggano, serta bahasa daerah lainnya di provinsi ini tidak akan hilang,” kata Yanti Riswara.

Artikel sebelumyaKemendes PDTT minta BSI berikan layanan perbankan sampai ke pelosok desa
Artikel berikutnyaPerkuat Kolaborasi G20, Menkominfo Usulkan Kelompok Kerja Ekonomi Digital