Beranda News Presiden: Jangan euforia tentang perbaikan pandemi

Presiden: Jangan euforia tentang perbaikan pandemi

Jika COVID-19 rendah, ekonomi akan berkembang.

Jakarta (ANTARA) – Presiden RI Joko Widodo mengingatkan seluruh asosiasi ekonomi dan bisnis agar tidak euforia dalam menyikapi membaiknya pandemi COVID-19.

Hal itu disampaikan Presiden saat menerima perwakilan pimpinan asosiasi bidang ekonomi dan bisnis di Istana Negara Jakarta, Rabu.

“Cerita ini saya sampaikan hanya untuk menanamkan optimisme pada bapak-bapak bahwa kita ada di posisi seperti itu, tapi jangan dulu bergembira, jangan sampai euforia. Kerja ya, tapi jangan terlalu euforia, lalu ambil ini (topeng) lepas,” kata Presiden, dibuktikan dari video klip YouTube Sekretariat Presiden.

Acara tersebut dihadiri oleh para ketua asosiasi di bidang ekonomi dan bisnis, antara lain Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Perwakilan asosiasi ekonomi dan bisnis diterima Presiden yang dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Menteri Koordinator (Menko) Airlanga dalam keterangannya usai pertemuan mengatakan, Presiden Djokovi telah meminta dunia ekonomi dan bisnis tanah air untuk membantu pemerintah mengingatkan masyarakat bahwa pandemi COVID-19 belum berakhir.

“Pandemi COVID belum berakhir dan kami meminta semua orang untuk tetap waspada dan kami meminta para CEO, CEO, asosiasi dan Kadin untuk mengingatkan mereka juga,” kata Menko Ayrlanga.

Menurut Airlangga, Presiden Djokovi mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara saat ini tergantung pada bagaimana negara menghadapi COVID-19.

Meski perang melawan COVID-19 di Indonesia telah membaik, komunitas ekonomi dan bisnis negara tidak boleh gegabah dan menjaga penyebaran COVID-19 tetap terkendali.

“Ini harus dipertahankan setiap saat karena pertumbuhan ekonomi berbanding terbalik dengan perjuangan melawan COVID. Jadi, jika COVID-19 tinggi, ekonomi akan rendah. Di sisi lain, jika COVID-19 rendah, ekonomi akan “meregangkan”, katanya.

Dalam pertemuan tersebut, para pengusaha menyuarakan sejumlah permasalahan yang mereka hadapi dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Mulai dari pelunakan restrukturisasi pinjaman bank, peningkatan biaya logistik, dan diakhiri dengan bantuan keuangan bagi pengusaha di sektor ritel.

Airlanga mengatakan, pemerintah akan merevisi regulasi terkait agar lebih fleksibel dan berharap para pengusaha terus antusias memperluas kegiatan usahanya sehingga pertumbuhan ekonomi nasional juga bisa tumbuh.

“Kami mendorong para pengusaha ini untuk terus memperluas kegiatan ekonominya sehingga bisa menekan angka pengangguran,” kata Ayrlanga.

Artikel sebelumyaQassad memberi penghormatan kepada tentara yang berjuang keras untuk pendidikan
Artikel berikutnyaPelaksanaan tes CASN di Kota Tidore tersebar di 18 titik.