Beranda Nusantara Populasi bekantan terancam di East Cotavaringin

Populasi bekantan terancam di East Cotavaringin

Sampit (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menemukan populasi bekantan (nasalis larvatus) di Kabupaten Cotavaringin Timur mulai terancam dengan semakin sulitnya mencari makan di habitat aslinya, sehingga satwa tersebut masuk. ke daerah pemukiman.

“Asumsi awal kami adalah habitat bekantan rusak, sehingga mereka mencoba mencari makan di tempat lain, tetapi bekantan salah menyeberangi sungai,” kata Muriansya, Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pusat. Kalimantan, Sampit, di Sampit, Kamis.

Pada Rabu (8 April), Murianha melepasliarkan bekantan betina muda ke dalam hutan di kawasan Seranau. Hutan di kawasan ini dikenal sebagai habitat hewan langka dengan ciri khas hidung besar dan panjang.

Sebelumnya, bekantan berhasil diselamatkan oleh dua pengendara kelotok bernama Alus dan Johan. Mereka melihat bekantan berenang di tengah sungai Mentai.

Bekantan diyakini berenang keluar dari hutan di kawasan Seranau untuk menuju kawasan pusat perbelanjaan Mentaya Sampit untuk mencari makan.

Saat berada di tengah sungai, bekantan kelelahan dan hampir tenggelam. Untungnya, Alus dan Johan melihat hewan langka ini dan menyelamatkannya.

Mereka kemudian melaporkan kejadian tersebut ke BKSDA. Pada pemeriksaan, tidak ditemukan luka pada tubuh bekantan monyet tersebut. BKSDA kemudian melepaskan bekantan kembali ke hutan di kawasan Seranau.

Murianya mengatakan, kejadian di mana bekantan hampir tenggelam saat menyeberangi Sungai Mentaya terjadi beberapa kali. BKSDA mencatat, ini merupakan kejadian kelima dalam empat tahun terakhir.

Diduga bekantan mulai mengalami kesulitan dalam memperoleh makanan di habitat aslinya, sehingga mereka mulai mencari makan di tempat lain, termasuk di daerah pemukiman. “Ini menjadi perhatian serius karena bisa mengancam populasi spesies yang terancam punah ini,” katanya.

Muriansja mengapresiasi dan mengapresiasi tingginya kesadaran masyarakat dalam membantu menyelamatkan satwa langka ini. Buktinya, warga yang biasanya pengendara sepeda motor yang menemukan bekantan hanyut itu langsung menyelamatkannya dan melapor ke BKSDA.

“Kami menghimbau kepada warga yang memelihara atau menemukan satwa yang dilindungi untuk segera melapor ke BKSDA Sampit. Selain menyelamatkan hewan-hewan tersebut, hal ini juga diperlukan untuk memastikan warga tidak bermasalah dengan hukum. Satwa yang dilindungi, yang dipelihara selain habitatnya juga rawan mati,” kata Muriansah.

Artikel sebelumyaHadiri Pertemuan G20 Virtual, Menkominfo Ajak Wujudkan Inklusi dan Kesetaraan Digital
Artikel berikutnyaMenkominfo: Percepatan Transformasi Digital Kunci Pemulihan Pascapandemi