Beranda Hukum PKT Panggil Lima Saksi Kasus Asuransi Jasindo

PKT Panggil Lima Saksi Kasus Asuransi Jasindo

Jakarta (ANTARA) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil lima saksi untuk tersangka Direktur Keuangan dan Investasi PT Asuransi Jasindo sejak 2008 hingga September 2016, Solihah (SLH).

Mereka dipanggil pada Senin untuk mengusut kasus dugaan korupsi pembayaran komisi kegiatan fiktif agen PT Asuransi Jasindo dalam tahanan (penutupan) asuransi migas di BP MIGAZ-KKKS tahun 2010–2012 dan 2012–2014.

“Hari ini, pemeriksaan saksi-saksi atas tuduhan korupsi dalam kegiatan fiktif agen PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) pada akhir (penutupan) penjaminan migas di BP Migas-KKKS tahun 2020-2012 dan 2012-2014 bagi tersangka SLH. Survei dilakukan di kantor PKC di Jakarta Selatan, ”kata Pj Juru Bicara PKT Ali Fikri dalam sebuah pernyataan di Jakarta.

Lima orang saksi yaitu Dvi Yanti Handayani selaku pegawai PT Asuransi Jasindo/sekretaris direktur utama PT Asuransi Jasindo, pimpinan PT Asuransi Jasindo Cabang Gatot Subroto 2009-2010 Budi Susilo, pegawai PT Asuransi Jasindo Yani Karyani, Suntoro selaku pembersihan PT Asuransi Jasindo dan mantan karyawan PT Asuransi Jasindo Yuko Gunawan.

Selain Solihah, PKC juga menetapkan pemilik PT Ayodya Multi Sarana (AMS) Kiagus, Emil Fahmi Kornen (KEFC), sebagai tersangka.

Kasus yang melibatkan kedua orang tersebut merupakan lanjutan dari penyidikan dengan tersangka direktur PT Asuransi Jasindo antara tahun 2011 hingga 2016, Budi Tiagiono yang saat ini kasusnya telah berkekuatan hukum penuh.

Sehubungan dengan perbuatannya, dua tersangka diduga melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. perserikatan rahasia Pasal 55 Ayat (1) 1 KUHP.

Dalam pembangunan hull, terungkap bahwa Kiagus sedang melobi beberapa pejabat di BP Migas untuk memenuhi keinginan Budi agar PT Asuransi Jasindo menjadi pemimpin konsorsium (sebelumnya direktur bersama) dalam penjaminan proyek dan aset BP Migaz-KKKS.

Atas bantuan yang diberikan Kiagus, Budi kemudian memberikan sejumlah uang, memanipulasi cara penerimaan pengadaan, seolah-olah menggunakan jasa agen asuransi bernama Iman Tawhid Khan yang merupakan bawahan Kiagus, sehingga menimbulkan biaya keagenan dari PT. Asuranshi Jasindo Imanu senilai Rp 7,3 miliar.

Kiagus kemudian memberikan Budi sejumlah Rs 7,3 miliar senilai Rs 6 miliar, dan sisanya Rs 1,3 miliar kepada Kiagus.

Pemenuhan perintah Budi agar P.T. Asuranci Jacindo tinggal pemimpin Dalam konsorsium penutupan proyek dan penjaminan aset BP Migas-KKKS tahun 2012-2014 telah dilakukan rapat pengurus yang dihadiri oleh Solihah selaku CFO PT Asuransi Jasindo.

Dalam rapat direksi, diputuskan untuk tidak lagi menggunakan agen Iman Tawhid Khan dan menggantikannya dengan Supomo Hijaziye. Diputuskan untuk memberikan biaya keagenan dari Supomo untuk dikumpulkan melalui Solihah.

Saat membeli pertanggungan asuransi untuk proyek dan aset BP Migas-KKKS tahun 2012-2014. Budi terus menggunakan rezim seolah-olah pembelian itu diterima atas jasa agen asuransi Supomo dengan komisi agen sebesar $600.000.

Uang tersebut ditransfer ke Supomo Budi secara bertahap melalui Solih, yang digunakan untuk keperluan pribadi Budi sekitar USD 400.000, serta khusus untuk kebutuhan pribadi Solihah sekitar USD 200.000.

Artikel sebelumyaKetua DPD Minta Pimpinan Daerah Jatim Optimalkan Isolasi Terpusat
Artikel berikutnyaLSM Lodaya Bangkitkan Seniman Melalui Lomba Tari Jaipong Bedog Lubuk