Beranda Warganet Pertemuan korban likuifaksi di Petobo Palu menghadirkan lima tuntutan

Pertemuan korban likuifaksi di Petobo Palu menghadirkan lima tuntutan

Kota Palu (ANTARA). Korban gempa dan likuifaksi di Desa Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengajukan lima tuntutan percepatan pembangunan dalam rapat seremonial yang digelar Minggu di Huntap (Huntap) Ranggaravan Petobo.

Pertemuan khusyuk para korban gempa dan likuifaksi di Petobo itu dihadiri Gubernur Sulteng Rusdi Mastura dan Ketua DPRD Sulteng Nilam Sari Lavira.

Lima tuntutan para penyintas bencana 28 September 2018 adalah, pertama, mendukung pembangunan shelter dan kebijakan publik untuk menghormati hak-hak korban bencana.

Kedua, meminta pemerintah untuk tidak ikut campur dengan korban bencana untuk memenuhi persyaratan, serta selama verifikasi dan klarifikasi untuk mendapatkan hak perumahan baru.

Persyaratan ketiga menyangkut peruntukan lahan pemukiman kembali untuk restorasi, dimana Diktum menempatkan pengungsian bagi 850 KK korban gempa dan likuifaksi di Desa Petobo, Kabupaten Palu Selatan.

Keempat, korban bencana menghimbau pemerintah daerah agar meminta pemerintah pusat membangun shelter dari bangunan berkualitas tahan gempa.

Dan syarat kelima adalah harapan warga bahwa junta itu akan disebut Banua Tadulako Petobo.

Menanggapi tuntutan lima penyintas, Gubernur Sulawesi Tengah Rusdi Mastura mengatakan pemerintah terus mempercepat pembangunan shelter bagi korban bencana 28 September 2018. Rusdi berharap para korban bencana gempa dan likuifaksi di Petobo bersabar.

“Perintah gubernur untuk mengubah SK Gubernur tentang lokasi tanah pemukiman kembali untuk pemulihan bencana di Sulawesi Tengah telah dikeluarkan,” kata Kadi, sapaan akrab Rusdi Mastura, Minggu.

Sementara itu, Ketua DNVD Sulteng Nilam Sari Lavira menambahkan, pihaknya saat ini juga berupaya membantu penanganan bencana alam dengan membentuk tim khusus untuk Palu, Sigi dan Donggal (Pasigala). Tujuannya adalah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan para korban bencana pencairan gas.

“Untuk masalah lahan, sudah dialihkan sebidang seluas 2 hektar agar bisa digunakan untuk pembangunan shelter umum Petobo,” tambah Nilam Sari.

Artikel sebelumyaRhysma memanggil Bupati Gresik, mendorong pemanfaatan Banjir Bandang.
Artikel berikutnyaBanjir dan longsor melanda belasan titik di Sukabumi