Beranda Nusantara Penyebab kematian gajah di Bengkulu diperkirakan terkait penyakit.

Penyebab kematian gajah di Bengkulu diperkirakan terkait penyakit.

Kota Bengkulu (ANTARA). Badan Perlindungan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu menduga sementara gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina berkerah GPS (Elephas maximus sumatranus) mati di kawasan hutan produksi Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, diduga karena sakit.

Donal Hutasoit, Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu, di Kota Bengkulu, Jumat, mengatakan gajah itu diduga sakit sementara, namun belum bisa dipastikan penyebab pastinya.
“Kami belum bisa memastikan penyebab kematian gajah secara pasti karena saat ditemukan hanya tersisa tulang gajah,” kata Donal.
Dia menjelaskan, dugaan penyebab kematian gajah tersebut karena sakit karena ditemukan lubang yang diduga berasal dari benda tajam di kaki belakang kiri gajah yang berpotensi menyebabkan infeksi.
Agar gajah kesulitan berjalan, ditemukan pecahan gigi kiri bawah gajah, dan ia mengalami gangguan makan.
Namun untuk penyebab giginya patah, pihaknya belum bisa memastikan karena kemungkinan karena gajah makan atau semacamnya.
Dengan demikian, penyebab pasti kematian gajah sulit ditentukan karena campur tangan manusia, karena tidak ada bukti atau indikasi lain.
“Berdasarkan pengamatan kami di lapangan, tempat ditemukannya gajah itu banyak lahan terbukanya,” ujarnya.
Sebelumnya merupakan Patroli Konsorsium Lanskap Seblat di Kawasan Hutan Produksi Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.
Gajah sumatera diperkirakan mati pada 20 Agustus 2022 karena gajah berkerah tidak menunjukkan gerakan apapun pada saat itu.
Sebuah kalung GPS dipasang pada seekor gajah sumatera berusia 30-an di hutan produksi Air Rami pada 25 November 2020.

Artikel sebelumyaJumlah korban kekerasan seksual di Alora naik menjadi 14
Artikel berikutnyaBMKG imbau masyarakat Aceh waspadai angin puting beliung saat pergantian musim