Beranda Nusantara Pengamat mengharapkan standar kualitas udara yang lebih ketat

Pengamat mengharapkan standar kualitas udara yang lebih ketat

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Yayasan Cerah Indonesia, Adhityani Putri berharap penerapan standar kualitas udara yang lebih ketat untuk mencapai kualitas udara yang lebih baik di Indonesia.

“Perlu diterapkan standar yang lebih ketat sesuai dengan sains, sesuai standar WHO. Kita tidak bisa lagi menggunakan standar kualitas yang jauh lebih longgar yang tidak sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,” kata Adhityani saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Menurut Adhityani, yang bekerja dengan organisasi nirlaba Indonesia Cerah untuk mempromosikan transisi energi, mengatakan standar yang rendah dapat menyebabkan polusi karena pembangunan yang tidak terkendali.

Dia mencontohkan bagaimana pembangunan yang terkonsentrasi di satu titik dapat menyebabkan kemacetan, yang mendorong penggunaan bahan bakar lebih banyak, yang berujung pada pencemaran udara.

Semua ini dapat dihindari dengan memperketat standar yang mendasari model pengembangan.

“Apa standar ini? Ini adalah standar kualitas udara ambien dan standar emisi untuk berbagai kegiatan, misalnya untuk industri, pembangkit listrik bahkan untuk mobil, ”katanya.

Dikatakannya, standar kualitas yang diterapkan saat ini masih di bawah standar internasional.

Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No. 14/2020 tentang standar indeks pencemar udara yang dijelaskan dalam tabel standar indeks pencemar udara (ISPU), untuk PM 2.5 dalam kategori baik adalah 15,5 mikrogram/meter kubik dalam 24 jam terakhir. Sedangkan standar WHO adalah 10 mikrogram/meter kubik.

Standar kualitas tahunan WHO adalah 10 mikrogram/meter kubik, sedangkan Indonesia memiliki 15 mikrogram/meter kubik per tahun, menurut data yang diberikan di situs web Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. *

Artikel sebelumyaProgram Citarum Harum mengukur kualitas hidup 18 juta warga
Artikel berikutnyaKomedian Koki Pardede menjalani rehabilitasi di RSKO Cibubur