Beranda Warganet Pemerintah mengharapkan puncak kebakaran hutan dan lahan berkat sinergi hujan buatan.

Pemerintah mengharapkan puncak kebakaran hutan dan lahan berkat sinergi hujan buatan.

Jakarta (ANTARA) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kota Nurbaya mengatakan pemerintah menggunakan Weather Change Technology (TMC) untuk menciptakan hujan buatan sebagai upaya pencegahan di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Selama beberapa tahun terakhir, kami telah memperkuat TMC ini, dan akhirnya menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kami,” kata City dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Upaya TMC di Provinsi Riau pada tahap pertama, 10 Maret hingga 5 April 2021, cenderung meningkatkan curah hujan sekitar 33 hingga 64 persen dari curah hujan alami. Curah hujan tambahan di lokasi penyemaian awan adalah sekitar 194,3 juta meter kubik (M3).

“Pada tahap kedua, persentase keseluruhan curah hujan tambahan di Provinsi Riau pada Juli 2021 adalah dua persen dari curah hujan alami,” kata City.

Kemudian, selain semua yang disebutkan di atas, ia mengatakan bahwa upaya lain ditujukan untuk memastikan hukum dan ketertiban. Polri telah mengembangkan sistem terkait kejahatan, sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga memiliki struktur penegakan hukum, yaitu memperingatkan perusahaan perkebunan kelapa sawit, dll, jika muncul di bisnisnya hot spot. lokasi.

Sebagai langkah antisipasi, ia meminta semua pihak mewaspadai titik api yang muncul di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, perlu penguatan patroli masyarakat terpadu sebagai sistem pertahanan untuk memerangi kebakaran hutan dan lahan sedini mungkin.

Patroli secara menyeluruh telah dilakukan di seluruh Indonesia, katanya, dan hingga saat ini telah berdiri 185 posko desa yang mencakup hingga 555 desa di sekitar posko.

Kota secara implisit meminta peningkatan kapasitas kelompok pemadam kebakaran masyarakat (MPA), yang kini juga telah ditambahkan ke tim paralegal. Diharapkan selain mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di tingkat sebagian besar lokasi, kelompok MPA-Paralegal mampu menciptakan kegiatan yang hemat biaya sehingga masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.

Menurut Menteri LHK, jumlah MPA-Paralegal di seluruh Indonesia pada tahun 2020 sebanyak 12 kelompok, dan diusulkan penambahan 28 kelompok pada tahun 2021. Sehingga pada akhir tahun 2021 diharapkan akan terbentuk 40 kelompok MPA-Paralegal.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dvikorita Karnawati merilis prakiraan iklim dan cuaca tahun 2021 di Indonesia. Dalam paparannya, ia menyimpulkan bahwa indeks ENSO Juli 2021 menunjukkan kondisi netral dan diproyeksikan berlanjut hingga awal 2022.

Kemudian, kata dia, curah hujan di sebagian besar Indonesia rendah pada Agustus hingga Oktober 2021, dan sedang tinggi pada November hingga Januari 2022.

Oleh karena itu, menurut dia, BMKG merekomendasikan untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan kategori sedang dan tinggi pada Agustus 2021 di Sumatera bagian tengah dan sebagian NTB dan NTT.

Selain itu, BMKG memprediksi puncak musim kemarau di beberapa wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan, termasuk Sumatera bagian selatan dan sebagian besar Kalimantan, pada Agustus dan September.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggelar rapat teknis untuk membahas penjelasan prakiraan cuaca dan metode perubahan cuaca, serta kesiapan patroli desa pada Jumat (30/7). Pertemuan virtual tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan antara lain BMKG, BNPB, TNI, Polri, BPPT dan ahli iklim dari IPB University.

Artikel sebelumyaHutan Wanagama UGM mulai dijadikan tempat isolasi pasien COVID-19
Artikel berikutnyaAQL Bagikan Oksigen Medis Gratis untuk Pasien Isomania di Jabodetabek