Beranda Nusantara Orangutan asal Sumatera Utara dilepasliarkan ke alam liar di Riau

Orangutan asal Sumatera Utara dilepasliarkan ke alam liar di Riau

Kota Pekanbaru (ANTARA) – Balai Taman Nasional Bukit Tiga Pulu (TNBT), Indragiri Hulu, Riau, melepasliarkan orangutan bernama Sun Gu Kong, 16 tahun, dari Simalingkar – Sumatera Utara dengan ID OU 194.

“Pelepasliaran orangutan ini bertujuan untuk mengembalikan satwa liar ini ke habitat aslinya,” kata Gubernur Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Arfiana Jogasar di Pekanbaru, Kamis.

Dikatakannya, Sun Gou Kong pertama kali tiba di Stasiun SORC Sungai Panjian pada 27 Februari 2011 saat berusia lima tahun, dan dilepasliarkan pada 29 Januari 2012 (7 tahun) di buffer zone Sungai Belantik Hulu di TNBT.

Berdasarkan riwayat perilisannya, Sun Gu Kong telah dilepas sebanyak 5 kali, dan berdasarkan hasil beberapa kali pertemuan Sun Gu Kong di lokasi yang sama, dapat dikatakan bahwa Sun Gu Kong telah menguasai wilayah jelajahnya.

“Lokasi pelepasan Sun Ghou Kong kali ini dipilih di daerah yang baru dan belum dikenal, yaitu di Sungai Tulang, Wilayah Kerja Resort Lahai SPTN Region II Belilas. Untuk sampai ke tempat ini, tim pelepas harus menempuh jarak 2 orang. sampai 3 km, dan untuk sampai ke tempat ini butuh waktu 4 sampai 5 km. Jalan kaki satu jam, membawa bobot kandang dan orangutan seberat kurang lebih 120 kg,” kata Fifin Arfiana.

Dia menjelaskan, pelepasan dilakukan bersama dengan beberapa pihak, yakni kantor TNBT, pusat KSDA Jambi, FZS, Polres Batang Chenaku, Pemkab Batang Chenaku, dan Desa Sipang. Masyarakat setempat direkrut untuk membawa kandang orangutan Sun Gou Kong.

“Pemilihan lokasi baru ini diharapkan dapat mendorong Sun Gu Kong untuk menjelajahi habitat yang berbeda dan kembali ke alam liar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan sejak awal, Sun Gou Kong masuk dalam kategori orangutan yang cukup cerdas, terbukti dari analisis data harian lebih dari 40 persen asupan makanan, terutama dari makan buah-buahan hutan dan Body Condition Assessment (BCS) cukup tinggi. stabil, yaitu 3 poin berbanding 3. Ini adalah tubuh ideal bagi orangutan di alam bebas.

“Saya berharap kedepannya Sun Gou Kong dapat bertahan dan hidup selaras dengan alam, dapat berkembang biak untuk kelangsungan hidup populasinya di alam dan menyelamatkan hewan-hewan ini dari ambang kepunahan,” kata Fifin.

Kegiatan pelepasliaran orangutan di TNBT dimulai pada tahun 2001 di bawah Program Reintroduksi Orangutan Sumatera (PROS). Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Pulukh (TNBT) sebagai kawasan pelepasliaran orangutan merupakan salah satu kegiatan dalam Nota Kesepahaman (MSP) antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Cq. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Frankfurt Zoological Society (FZS) untuk Program Konservasi Satwa dan Habitat di TNBT.

Satwa liar orangutan terancam punah atau hampir punah dalam Daftar Merah Orangutan Sumatera IUCN dan tercantum dalam CITES Appendix 1 yang artinya spesies tersebut tidak dapat diperdagangkan.

Orangutan yang dilepasliarkan merupakan hasil rehabilitasi menyusul pemindahan satwa oleh masyarakat. Orangutan hasil sitaan dibawa ke pusat rehabilitasi Sungai Panjian Orangutan Rehabilitation Center (SORC) di Sumatera dan sebagian ke Danau Alo Orangutan Open Sactuary (OOS). Kedua stasiun ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara di mana orangutan akan diajari cara mencari makanan dan bertahan hidup di alam.

Artikel sebelumyaBBKSDA Sumut menerima pemulangan individu orangutan sumatera
Artikel berikutnyaHujan lebat diprediksi akan mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia.