Beranda News Moeldoko menegaskan bahwa terorisme tidak terkait dengan ajaran agama

Moeldoko menegaskan bahwa terorisme tidak terkait dengan ajaran agama

Jakarta (ANTARA) – Kepala Staf Presiden Moeldoko menegaskan terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ajaran agama.

Demikian disampaikan Moeldoko dalam sambutannya pada peluncuran buku Kekuatan Pengampunan: Kenangan Korban Bom JW Marriot dan HUT ke-19 Tragedi JW Marriot Jakarta 2003, Jumat (5/8), menurut pers. rilis diterima di Jakarta pada hari Sabtu.

“Apapun alasannya, semua ajaran agama menolak aksi teroris. Karena itu, aksi teroris tidak bisa bersembunyi di balik agama,” kata Moeldoko.

Moeldoko dalam kesempatan ini menghimbau kepada semua pihak untuk mengingat kembali serangan teroris yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, hal ini penting dilakukan guna terus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk ancaman keamanan.

“Saya setuju bahwa kita harus tahan dengan aksi teroris. Tapi jangan pernah lupakan kejadian ini agar kita selalu waspada,” kata Moeldoko.

Sebagai informasi: Kekuatan Pengampunan: Sebuah Memoar Korban Serangan JW Marriot ditulis oleh Sonia Sumarno, salah satu korban bom JW Marriot 2003.

Moeldoko mengatakan bahwa sejak pemboman JW Marriot 2003, pemerintah telah mengadopsi pendekatan seluruh pemerintah untuk memerangi terorisme, dari pendidikan hingga penuntutan.

Menurut dia, pendekatan ini secara normatif diperkuat dengan terbitnya UU No. 5/2018 dan Perpres No.7/2021 “Tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Ekstremisme Kekerasan”.

Mengacu pada kajian LAB45 2021, Moeldoko mengatakan, sejak tahun 2000, tren serangan teroris terus menurun. Nilai kumulatif Indeks Terorisme Global juga turun dari 6,55 pada 2021 menjadi 5,5 pada 2022.

“Lebih sedikit nilai berarti lebih baik. Ini adalah hasil kerja keras pemerintah dan semua pihak dalam memerangi terorisme. Pemerintah tidak bekerja sendiri,” kata Moeldoko.

Moeldoko memastikan negara hadir untuk para korban serangan teroris. Dia mencontohkan, pembayaran ganti rugi kepada 215 korban terorisme dan ahli waris dari 40 serangan teroris di masa lalu, senilai Rp 39 miliar.

“Kehadiran negara diharapkan membawa semangat baru dan optimisme baru bagi para korban dan keluarganya,” kata Moeldoko.

Moeldoko menyampaikan harapannya agar The Power of Forgiveness: Memoirs of the Victims of the JW Marriot Bombing dapat menginspirasi semua pihak untuk bersama-sama memerangi terorisme.

“Saya berharap dengan terbitnya buku ini (The Power of Forgiveness: Memoirs of the Victims of the JW Marriot Bombing) dapat menginspirasi kita semua untuk bersama-sama memerangi terorisme,” harap Moeldoko.

Sonia Sumarno, penulis buku The Power of Forgiveness: A Memoir of the Victims of the JW Marriot Bombing menjelaskan, proses dari penulisan buku hingga penerbitan memakan waktu lama, yakni 15 tahun.

Buku tersebut berisi kesaksian para korban, mantan pelaku penyerangan, serta perjalanannya dalam melakukan program deradikalisasi dari satu Lapas ke Lapas lainnya.

Artikel sebelumyaPerpustakaan membuat kegiatan literasi lebih menarik bagi anak muda
Artikel berikutnyaHasil penelitian lesi kulit pada suspek cacar monyet di Jawa Tengah negatif.