Beranda News Menurut BSSN, akan ada 1,6 miliar serangan siber pada tahun 2021.

Menurut BSSN, akan ada 1,6 miliar serangan siber pada tahun 2021.

…paling termotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan data pemerintah…

Padang (ANTARA) – Badan Nasional Siber dan Kriptografi (BSSN) menyebutkan akan terjadi 1,6 miliar serangan siber di Indonesia pada tahun 2021 yang didominasi oleh anomali lalu lintas, dengan kategori anomali tertinggi adalah perangkat lunak perusak.

“Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, spektrum ancaman semakin luas, sehingga Indonesia juga harus merespon dan bersiap menghadapi perang siber,” kata Direktur Keamanan Siber dan Sandi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Media dan Transportasi. , Deputi IV BSSN, Rinaldi, di Padang, Selasa.

Hal itu ia laporkan saat meluncurkan Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Cyber ​​Incident Response Pemerintah Kota Padang yang disebut Padang-CSIRT.

Menurutnya, dari 1,6 miliar serangan, yang paling anomali adalah kategori perangkat lunak perusakAktivitas Trojan mengumpulkan informasi untuk menemukan celah keamanan.

Ia menjelaskan, anomali itu seperti rumah yang biasanya hanya dilewati satu atau dua orang, namun tiba-tiba lebih dari 10 orang melintas pada waktu tertentu. “Yang tadinya sepi tiba-tiba menjadi ramai, jadi ini harus menjadi masalah bagi tim tanggap insiden siber,” katanya. Kemudian level selanjutnya setelah anomali adalah serangan siber.

Ia menganalogikan penyerangan banyak orang yang mondar-mandir di depan rumah, ada yang membawa obeng, tang dan berusaha mendobrak pintu rumah. “Dalam penyerangan, jika pintu rumah tidak kuat, dia bisa masuk, tetapi jika menggunakan pintu besi dan kuat, penyerang tidak bisa masuk,” katanya.

Level selanjutnya adalah insiden dimana seorang penyusup bisa masuk dan mengambil beberapa barang dari rumah.

Rinaldi mengatakan serangan siber terus mengkhawatirkan BSSN. “Yang terus berkembang adalah jumlah serangan pembobolan data yang dilakukan oleh aktor ancaman, yang sebagian besar dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan data milik pemerintah,” katanya.

Menurutnya, ini merupakan ancaman serius bagi dunia maya, yang bersifat teknis.

Selain serangan siber teknis, menurutnya, serangan siber sosial juga dimungkinkan, salah satu tujuannya untuk mempengaruhi seseorang melalui dunia maya, yang erat kaitannya dengan perang politik, perang informasi, perang psikologis, dan propaganda.

Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia harus siap menghadapi ancaman kejahatan dunia maya, termasuk kejahatan penyalahgunaan data.

Di sisi lain, menciptakan keamanan siber membutuhkan kombinasi dari tiga aspek yang saling terkait dan saling mendukung, yaitu sumber daya manusia, proses, dan teknologi. “Sumber daya manusia memainkan peran penting dalam keamanan siber, melakukan upaya untuk memperkuat aspek proses dan teknologi,” katanya.

Artikel sebelumyaPemkot Palu berjanji kepada Rusunava bahwa para penyintas tidak akan mendapat suaka
Artikel berikutnyaTNI-Polri Fasilitasi Kunjungan Ibu Negara Yriana ke Labuan Bajo