Beranda Nusantara Menko Marves buka TPST terbesar di Bali

Menko Marves buka TPST terbesar di Bali

Samtaku, yang menggunakan teknologi yang lebih canggih

Badung (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjayitan meresmikan Kompleks Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) My Waste My Responsibility (TPST) yang merupakan TPST terbesar di Provinsi Bali.

TPST Samtaku dibangun bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Badung (Pemkab) dan PT. Danone-AQUA dan PT. Rekiki Mantap Jaya (Rekiki).

“Kerjasama antara pemerintah daerah dan swasta merupakan contoh yang sangat baik untuk diterapkan dalam pengelolaan sampah serta untuk menerapkan perubahan paradigma pengelolaan sampah terpadu dengan pendekatan ekonomi sirkular,” kata Menko Luhut Panjayitan di Jimbaran. Kabupaten Badung, Jumat.

Ia mengatakan, persoalan persampahan di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan khususnya harus mendapat perhatian serius mengingat TPA Sarbagit sudah tidak bisa lagi menampung sampah.

Menyusul batalnya rencana PSEL di TPA Sarbagita, Pemprov Bali dan pemerintah berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah mendaur ulang sampah sedekat mungkin dengan sumbernya dengan merehabilitasi dan membangun TPA-3R baru.

Lukhut mengatakan, pihaknya telah menyepakati langkah penyelesaian pengelolaan sampah dengan memutakhirkan TPS-3R dan membangun beberapa TPST baru agar sampah dapat ditangani sedekat mungkin dengan sumbernya.

“Selain itu, ada TPST seperti Samtaku yang teknologinya lebih maju. memajukan Dari sisi pengelolaan sampah, diharapkan timbulan sampah di Bali hampir bisa ditangani secara tuntas, sehingga kita tidak lagi bergantung pada TPA,” ujarnya.

TPST Samtaku dibangun di atas lahan seluas 5.000 m2 yang disiapkan untuk menangani 120 ton sampah per hari dengan prioritas model Zero Waste to Landfill.

Nantinya, semua sampah yang diangkut ke fasilitas ini akan didaur ulang untuk digunakan kembali secara menyeluruh, sehingga tidak ada residu yang akan diangkut ke area finishing.

Sementara itu, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta mengatakan produksi di Bali sebanyak 4.281 ton per hari atau 1,5 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 48 persen yang dapat dikelola, dan sisanya 52 persen tidak dapat dikelola.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Bali dan Kabupaten Badung menjadikan pengelolaan sampah plastik menjadi perhatian utama dan telah mengeluarkan serangkaian peraturan, salah satunya pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.

“Kami sangat mendukung pembangunan TPST Samtaku oleh Danone-AQUA bekerjasama dengan Reciki sejak awal. Selain mendukung Pemda Bali dalam mengurangi sampah plastik, juga menjadi solusi untuk mengelola sampah dari sumbernya dan tidak hanya menjadikan TPA Suwung sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di Bali,” ujarnya.

Direktur Pembangunan berkelanjutan Danone Indonesia Danone-AQUA, Karianto Wibovo menjelaskan pengelolaan sampah di TPST Samtaku Jimbaran. Semua sampah yang diangkut ke TPST akan diolah sesuai jenisnya.

Untuk sampah organik akan dilakukan pengomposan dengan kapasitas 40 ton per hari. Botol plastik akan didaur ulang menjadi botol plastik baru, dan sisa sampah akan didaur ulang menggunakan teknologi. Buang bahan bakar turunan (RDF).

“Danone-AQUA kini telah menjalin kemitraan bisnis untuk mendaur ulang botol plastik bekas dengan membuat wadah sampah, TPS3R/TPST dan pengumpul sampah plastik di 17 kabupaten atau kota di seluruh Indonesia, dan telah berhasil mengumpulkan setidaknya 13.000 ton botol bekas. botol plastik per tahun, bila disimpan dalam keadaan baik, telah membantu memberdayakan lebih dari 9.000 pemulung,” ujarnya.

Artikel sebelumyaBKSDA: Ratusan Burung Pipit Bunuh Diduga Makan Makanan Tercemar
Artikel berikutnyaMenteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengundang PWI untuk mengangkat isu lingkungan di HPN.