Beranda Warganet Membangun generasi masa depan yang sehat di tengah pandemi

Membangun generasi masa depan yang sehat di tengah pandemi

Anak-anak memiliki risiko infeksi dan penyakit yang sama.

Jakarta (ANTARA) – Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) 2019 telah berlangsung lebih dari satu setengah tahun di tanah air. Virus ini ditularkan dari orang ke orang dari berbagai daerah, tanpa memandang jenis kelamin, usia, dan tingkat ekonomi.

Anak-anak diyakini lebih kebal terhadap penularan virus corona. Namun, data ternyata menunjukkan bahwa COVID-19 menular tidak hanya kepada orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja memiliki risiko penularan yang sama.

Hingga 29 Juni 2021, terdapat lebih dari 2.000.000 kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan 10,6% kasus aktif atau lebih dari 200.000 kasus, menurut Kementerian Kesehatan. Sekitar 260.000 kasus yang dikonfirmasi terjadi pada anak-anak antara usia 0 dan 18 tahun, di mana 108.000 di antaranya terjadi pada anak-anak antara usia 12 dan 17 tahun.

Ada lebih dari 600 anak terdaftar berusia 0 hingga 18 tahun. Dari jumlah tersebut, 197 anak berusia 12 hingga 17 tahun dengan angka kematian kasus sebesar 0,18 persen.

Anak sebagai generasi penerus bangsa berhak atas pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Penyebaran COVID-19 yang semakin cepat menggarisbawahi pentingnya melindungi kekebalan anak. -Anak-anak dilindungi dengan vaksinasi.

Menurut Komite Penasehat Nasional Ahli Imunisasi atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan izin penggunaan vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh PT Biofarma (Sinovac), vaksinasi COVID-19 dapat diberikan kepada anak-anak berusia antara 12 hingga 17 tahun.

Namun, Nahar, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan pengenalan vaksinasi anak terhadap COVID-19 seringkali sulit dilakukan karena masih ada anak yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Padahal, kata dia, tidak semua anak sudah memiliki kepribadian.

Padahal, sesuai surat edaran (SE) Direktorat Utama P2P Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tertanggal 30 Juni 2021, peserta vaksinasi harus memiliki Kartu Keluarga (KK) atau dokumen lain yang mencantumkan NIK anak.

Kementerian Kesehatan mewajibkan untuk memvaksinasi anak usia 12 hingga 17 tahun, peserta harus memiliki kartu keluarga atau dokumen lain yang mencantumkan NIK anak.

Masalah ini, menurut Nahar, harus diselesaikan melalui interaksi antar lembaga/institusi. Masalah identitas demografis anak seharusnya tidak menjadi halangan untuk memvaksinasi anak terhadap COVID-19.

Terkait vaksin, tidak menutup kemungkinan vaksinasi anak yang tidak memiliki identitas diri, namun syaratnya setelah vaksinasi, NIK segera diurus.

Kedua program, vaksinasi anak dan identifikasi anak, harus berjalan beriringan.

Peran orang tua

Dukungan orang tua sangat penting untuk mendorong lebih banyak anak untuk divaksinasi. Pasalnya, masih ditemukan beberapa orang tua yang belum memiliki pemahaman penting tentang vaksinasi COVID-19.

Selain orang tua, penting juga bagi masyarakat untuk mendorong lebih banyak anak untuk divaksinasi di tempat vaksinasi.

“Kami berharap vaksinasi ini dapat diikuti oleh keluarga yang memiliki anak berusia antara 12 hingga 17 tahun,” ujarnya.

Sama pentingnya bahwa anak memahami pentingnya mendapatkan vaksinasi terhadap COVID-19.

Kementerian PPPA bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus memantau vaksinasi anak di sejumlah puskesmas dan sekolah.

Sementara itu, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr. Kota Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah bertujuan untuk memvaksinasi 26,7 juta anak-anak antara usia 12 dan 17 terhadap COVID-19.

Hingga saat ini, jumlah anak yang divaksinasi baru mencapai 2,4 juta anak.

“Hanya 2,4 juta anak yang divaksinasi,” kata Nadia.

Dia menekankan pentingnya memvaksinasi anak-anak karena anak-anak memiliki risiko yang sama tertular COVID-19 dengan orang dewasa.

“Anak-anak memiliki risiko infeksi dan penyakit yang sama,” kata Nadia.

Terlebih lagi, sebagian besar anak yang terinfeksi COVID-19 tidak menunjukkan gejala, sehingga dapat menularkan penyakit tersebut kepada keluarga atau orang lain tanpa disadari.

Padahal, risiko penularannya sama seperti pada orang dewasa, risiko untuk dirinya sendiri, dan kedua, risiko untuk orang lain, karena anak-anak biasanya tidak menunjukkan gejala. Tentu saja, orang tuanya dan orang-orang di sekitarnya dapat terinfeksi.

Saat memvaksinasi anak-anak, dinas kesehatan provinsi bekerja sama dengan dinas pendidikan di daerah masing-masing untuk memvaksinasi puskesmas dan sekolah.

Nadia juga meminta orang tua untuk segera mengajak anaknya melakukan vaksinasi guna melindungi anak dan orang lain dari bahaya tertular COVID-19.

Anak adalah pewaris masa depan suatu bangsa, yang hak-haknya harus dilindungi dan diwujudkan, termasuk dengan menjaga kesehatannya.

Pandemi COVID-19 menjadi tantangan bagi semua pihak untuk mempersiapkan anak-anak tersebut untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan intelektual yang sehat dalam menghadapi berbagai kendala yang ditetapkan untuk mencegah penularan COVID-19.

Berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dapat dijadikan sebagai pemicu bagi anak-anak negara untuk menjadi lebih sehat, kuat dan cerdas dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.

Artikel sebelumyaBelitung umumkan varian delta kasus COVID-19
Artikel berikutnyaHasil Riset Energi Terbarukan FTUI Mendapat Pengakuan Internasional