Beranda Warganet LPA Banten Menekan Kekerasan Anak Melalui Teman Relawan Anak

LPA Banten Menekan Kekerasan Anak Melalui Teman Relawan Anak

Para relawan ini akan menjadi pionir agar bisa langsung terjun ke masyarakat.

Serang, Banten (ANTARA) – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten berupaya menekan kekerasan terhadap anak di daerah tersebut melalui program relawan ramah anak.

“Melalui berbagai program yang akan dikembangkan, kami akan berusaha semaksimal mungkin menekan angka kekerasan terhadap anak,” kata Ketua LPA Provinsi Banten Hendri Gunawan usai pelantikan pimpinan LPA Banten yang dihadiri Komnas. Ketua LPA Arist Merdeka Sirait di Serang, Kamis.

Hendry mengatakan, program yang akan didorong mirip dengan partisipasi masyarakat dalam perlindungan anak melalui program relawan teman anak.

“Relawan-relawan ini akan menjadi pionir sehingga bisa langsung terjun ke masyarakat,” ujarnya.

Kemudian, kata dia, program perlindungan anak keluarga dan masyarakat digabung dengan program untuk anak pedesaan.

“Jadi tujuan dari program ini adalah membangun desa ramah anak, dan sampai saat ini adalah kawasan ramah anak dan provinsi ramah anak,” kata Hendry.

Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan IKAPI dan Fekraf terkait pembuatan alat sosialisasi bacaan yang akan didistribusikan ke seluruh TBM di Provinsi Banten.

“Dengan jumlah TBM yang jumlahnya ribuan, kami berharap ini bisa menjadi alternatif sosialisasi perlindungan anak yang bisa menjangkau mereka secara langsung,” ujarnya.

Hendry mengaku, berdasarkan data terakhir yang diterimanya, lebih dari 1.000 anak menjadi yatim piatu akibat orang tuanya meninggal dunia akibat COVID-19. Dengan demikian, kondisi ini menjadi “pekerjaan rumah” bagi LPA Banten terkait alternatif hak asuh anak.

Sementara itu, Ketua Komnas LPA Arist Merdeka Sirait mengatakan Provinsi Banten menempati urutan kesembilan dari 34 provinsi dengan angka kekerasan seksual anak yang sangat tinggi.

“Tidak banyak kasus kejahatan seksual yang dihentikan. Masih banyak kasus di desa-desa yang menoleransi pelanggaran seksual karena dianggap sebagai aib keluarga. Jadi hilang,” ujarnya.

Ariste mengaku prihatin dengan kondisi kekerasan terhadap anak yang terjadi di Banten, khususnya di kawasan Lebak, yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Kami telah mendengar tentang kasus-kasus yang sangat menyakitkan di Lebak, seperti pembunuhan seorang anak dengan melemparkannya ke dalam sumur, dan pembunuhan seorang anak lainnya karena dianggap tidak patuh,” katanya.

Untuk itu, kata Ariste, pihaknya ingin penegakan hukum benar-benar adil kepada para korban terkait pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Artikel sebelumyaPolisi dan PPATK Selesaikan Kasus TPPU Rp 531 Miliar
Artikel berikutnyaPresiden Jokovi Pertimbangkan Vaksinasi Door-to-Door di Delhi Serdang