Beranda Hukum Lima Petugas Narkotika Lapas Diselidiki Karena Reaksi Berlebihan

Lima Petugas Narkotika Lapas Diselidiki Karena Reaksi Berlebihan

Yogyakarta (ANTARA) – Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, menginterogasi lima petugas Lapas Narkoba Kelas II A Yogyakarta atas indikasi tindakan disiplin berlebihan terhadap narapidana di Lapas (WBP).

“Kami menemukan indikasi ada lima petugas yang sering melakukan hal tersebut, terlalu disiplin dan membuat narapidana merasa tidak nyaman,” kata Petugas Lapas Do It Yourself Kemenkumkham Gusti Ayu Putu Suvardani saat dihubungi Yogyakarta, Kamis.

Hal itu terungkap berdasarkan hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan Kanwil Kemenkumham DIY selama empat hari di sebuah lapas yang terletak di Pakem, Kabupaten Sleman.

“Setelah kami periksa wisma berkali-kali, ternyata tidak cukup, kami harus masuk kembali ke dalam, masuk perlahan. Akhirnya ada tanda-tanda diterapkannya hukuman yang dianggap berlebihan bagi narapidana,” kata Gusti. Ayu.

Menurut dia, pendisiplinan berlebihan diduga diterapkan oleh kelima petugas tersebut selama masa penyadaran lingkungan (mapenaling) terhadap narapidana baru, khususnya yang berada di blok Lapas Edelweiss.

Kelima orang ini sehari-hari bertugas sebagai Petugas Keamanan Pemasyarakatan (KPLP), dan beberapa lainnya adalah petugas keamanan Lapas.

“Karena mereka melakukan pemetaan di blok Edelweiss,” kata Ayu.

Mendisiplinkan narapidana sangat diperlukan sekaligus mengenal lingkungan penjara, ujarnya. Bahkan hal serupa dapat ditemukan di lapas lain.

Menurutnya, dengan bantuan pemetaan tersebut, para napi yang baru saja tiba diberi tahu tentang aturan main di dalam lapas.

“Yang tadinya mungkin tidak disiplin di jalanan, maka perlu kedisiplinan untuk bisa melalui pelatihan-pelatihan ini. Tapi mungkin inilah yang tampak di atas. Akan ada tindakan disipliner di semua penjara, ”katanya.

Adapun sejauh mana tindakan yang berlebihan itu, dia belum bisa membeberkan informasi tersebut karena tim pemeriksa malah menggali informasi lebih dalam, memanggil lima orang ke kantor wilayah Kemenkumham DIY.

“Kemarin sudah keluar surat keputusan (SK) kepala daerah untuk memindahkan lima orang ke kantor daerah (Kemenkumham DIY), mulai hari ini. Kami membuat keputusan untuk tim inspeksi untuk memeriksa semuanya. Jadi kita tinggal menunggu hasilnya saja,” ujarnya.

Jika terbukti bersalah, dia memastikan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memproses dan memberi sanksi kepada lima petugas.

“Kita tarik sementara untuk lebih memahami informasi apa yang berlebihan, kan, kita perlu tahu alasannya. Kita tidak langsung menyalahkan mereka, tapi kita selidiki dulu seperti apa, kalau tidak benar kenapa tidak. , kami akan memprosesnya dan memberikan sanksi, ”katanya.

Gusti Ayu memastikan tim investigasi departemen regional Kemenkumkham DIY akan bekerja secara objektif untuk menyelesaikan kasus tersebut.

“Anda harus objektif. Ini bukan masalah umum. Jika ini terjadi, itu akan melanggar hak asasi manusia,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah mantan narapidana kelas II A Lapas Pemberantasan Narkoba di Yogyakarta, Senin (1/11) mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) – Jawa Tengah. penganiayaan yang mereka alami di penjara.

Vincentius Titich Gita Arupadatu, salah satu mantan narapidana di Lapas Narkoba, mengaku di dalam lapas ia menjadi sasaran tindak kekerasan saat mulai diinjak-injak, dipukul dengan selang, hingga dipukul dengan alat kelamin banteng. yang dikeringkan. Vincentius dan mantan narapidana lainnya juga diduga melakukan pelecehan seksual.

Artikel sebelumyaBPK: Kesaksian Sophian Jalil membenarkan tuduhan R.J. Lino
Artikel berikutnyaBahas Kerja Sama dengan Dubes Portugal, Menteri Johnny: Dukung Industri dan Jembatani Kesenjangan Digital