Beranda Hukum Layanan Matching Bola KJRI untuk Tegakkan Legalitas PMI di Sarawak

Layanan Matching Bola KJRI untuk Tegakkan Legalitas PMI di Sarawak

Kami merasa aman dan tidak dianggap sebagai PMI ilegal

Pontianak (ANTARA) – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kuching telah melakukan berbagai upaya untuk memastikan legalitas dan perlindungan hukum bagi tenaga kerja Indonesia (PMI) yang bekerja di Sarawak, Malaysia. Salah satunya adalah layanan penggantian paspor dengan bola.

Untuk memastikan keabsahan PMI, KJRI tidak hanya melayani penggantian paspor di KJRI Kuching, tetapi juga secara langsung mengunjungi tempat-tempat operasional PMI, khususnya di perusahaan kelapa sawit. Program pengumpulan bola di seluruh Sarawak berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

“Kami bekerja sama dengan perusahaan kelapa sawit Malaysia yang mempekerjakan banyak PMI di Sarawak,” kata Konjen RI Kuching Raden Sigit Witjaksono.

Cara ini membantu PMI karena tidak harus ke KJRI Kuching. Tidak butuh waktu lama dan mereka tidak perlu membayar uang untuk mendapatkan layanan.

Sebelum memberikan layanan pengambilan bola, KJRI Kuching akan meminta kepada perusahaan sawit tempat PMI bekerja untuk mengirimkan detail PMI yang ingin menerima layanan penggantian paspor.

Hal ini untuk memastikan bahwa layanan dapat berjalan dengan lancar. Pertama, perusahaan mengirimkan data entry lengkap PMI yang bekerja di perusahaan melalui sistem yang dimiliki oleh KJRI Kuching. Jadi, ketika staf konsuler tiba di perusahaan sawit, mereka bisa langsung melayani. Yang harus Anda lakukan adalah mengambil foto masing-masing pemohon dan kemudian tinggal menunggu paspor dicetak.

Program pengumpulan bola yang sedang berlangsung sangat bermanfaat bagi para pekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit yang terletak jauh dari kantor Konsulat Jenderal di Kuching. Untuk beberapa perusahaan kelapa sawit tempat PMI beroperasi, perjalanan pulang pergi dapat memakan waktu hingga 20 jam atau lebih.

Dengan jarak yang begitu jauh, tentunya akan memakan waktu lebih dari 4 hari hanya untuk mengurus paspor di KJRI Kuching. Belum lagi biaya pengurusan paspor, mulai dari biaya makan, transportasi, dan lain sebagainya.

Selain itu, KJRI Kuching juga memberikan pelayanan kekonsuleran. KJRI satu memberikan perlindungan kepada PMI yang sedang menghadapi kasus, sedangkan KJRI dua menangani terkait pekerjaan.

Program ini selain meringankan beban PMI, juga membantu perusahaan tempat PMI bekerja.

Petugas imigrasi KJRI Kuching, Ronnie Fajar Purba menambahkan, pelayanan penggantian paspor dalam program pengambilan bola dilakukan secara rutin. Hampir semua perusahaan kelapa sawit di Sarawak, Malaysia bekerja sama dengan KJRI.

Untuk menentukan jadwal, biasanya perusahaan sawit di Sarawak mengajukan PMI ke perusahaan untuk mendapatkan layanan penggantian paspor langsung.

Karena jumlah pendaftar cukup banyak, KJRI membuat penyesuaian jadwal dan waktu pelayanan, dan dipilih pada akhir pekan.

Jumat, Sabtu, dan Minggu sengaja dipilih sebagai pengganti langsung paspor perusahaan sawit yang jauh dari Kuching. Dengan demikian, pelayanan reguler di KJRI Kuching tidak terganggu.

Dari Januari hingga akhir September 2022, terdapat 5.500 mahasiswa PMI dan CLC (Pusat Pembelajaran Komunitas) melayani penggantian paspor dan penerbitan SPLP untuk anak PMI.

Hingga Minggu (10/9), KJRI Kuching memberikan layanan penggantian paspor kepada 208 PMI yang bekerja di perusahaan sawit Krisjati Group Tradewinds Ladan Canal Lawas Sarawak.

PMI membantu

Awang, seorang PMI asal Bulukumba, Sulawesi Selatan yang bekerja di perusahaan kelapa sawit, bersama rekan-rekannya yang bekerja di perusahaan tersebut dibantu oleh jasa KJRI. Mereka menghargai apa yang telah dilakukan KJRI untuk melindungi mereka.

Layanan ini menunjukkan bahwa PMI yang berada jauh dan berada di negara lain tetap mendapat perhatian dan perlindungan hukum dari pemerintah Indonesia.

“Layanan ini tentunya sangat membantu dan memudahkan kami untuk bekerja di sini. Kami merasa aman dan tidak dianggap sebagai PMI ilegal,” kata Awang.

Irfan, seorang PMI asal Makassar yang bekerja untuk Sarawak Oil Palmas Berhad, mengatakan layanan KJRI Kuching sangat membantu para pekerja migran.

Karena jika PMI harus ke KJRI Kuching, mereka harus cuti kerja selama 3 hari dan juga mengeluarkan biaya. Belum lagi faktor keamanan saat melakukan perjalanan dari tempat kerja ke Kuching. Dari tempat kerja Irfan ke Kuching dengan bus sekitar 15 jam.

Berkat pelayanan KJRI Kuching, tempat kerja PMI membuat mereka serasa berada di negeri sendiri, karena pemerintah Indonesia terus memberikan perhatian kepada mereka.

Melalui kegiatan tersebut, PMI tidak hanya menerima jasa pengurusan paspor, tetapi juga memperhatikan berbagai hal, seperti menyelesaikan berbagai masalah dan mendidik anak-anak yang bekerja dengan orang tuanya di perusahaan kelapa sawit.

Senior Manager Sarawak Oil Palmas Berhad, Lau Shi Wen, mengatakan perusahaannya mendapat banyak manfaat dari program layanan pemindahan bola yang dijalankan oleh KJRI Kuching.

Perusahaan sangat bermanfaat karena karyawan tidak perlu lagi menghabiskan waktu dan uang yang banyak untuk mendapatkan paspor. Layanan ini merupakan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan mempekerjakan sekitar 10 ribu PMI.

Sebagai bentuk kepedulian PMI, perusahaan menyediakan tempat untuk pelayanan paspor. Fasilitas pendidikan dalam bentuk CLC juga diberikan kepada anak-anak Indonesia yang orang tuanya bekerja di perusahaan perkebunan.

Kerjasama KJRI Kuching dengan perusahaan memberikan kenyamanan bagi para pekerja migran Indonesia.

Kenyamanan PMI, yang akan membuahkan hasil dalam peningkatan produktivitas.

Redaktur : Ahmad Zanal M.

Artikel sebelumyaPemerintah Kabupaten Chanjur Relokasi 14 Keluarga Korban Pemindahan Tanah
Artikel berikutnyaPembunuh suami istri di Palangka Raya terancam hukuman mati