Beranda Hukum Kompolnas menuntut kontrol yang lebih ketat atas jalur penyelundupan senjata

Kompolnas menuntut kontrol yang lebih ketat atas jalur penyelundupan senjata

Jakarta (ANTARA) – Komisi Kepolisian Nasional meminta Polri memperkuat pengawasan terhadap jalur penyelundupan senjata api dan amunisi sehingga siapapun yang menyelundupkannya dapat ditangkap dan diproses secara hukum.

“Kompolnas berharap pengawasan terhadap jalur penyelundupan senjata api dan amunisi diperketat sehingga siapa pun yang mencoba menyelundupkan senjata akan ditangkap dan diadili,” kata Komisaris Kompolnas Poengki Indarti, Sabtu di Jakarta.

Poencki menyayangkan aparat kepolisian yang diduga terlibat dalam penjualan amunisi kepada Kelompok Kriminal Bersenjata Papua (KKB).

Menurut Poenki, jika terbukti dua anggota polisi menjual amunisi KKB, maka ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Kalau kebenarannya terbukti, harus dihukum seberat-beratnya,” tegas Poenki.

Dua polisi Papua dari Polres Nabire dan Polres Yapen ditangkap Satgas Nemangkawi di Nabire atas tuduhan terlibat dalam penjualan amunisi KKB.

Poengki mengatakan, selain memperketat pengawasan, Kompolnas juga berharap Polda Papua segera menindak kedua oknum polisi tersebut, yakni dengan mengkaji ulang dakwaan pidana dan standar etika yang berganda, sehingga mereka akan segera dipecat jika terbukti bersalah.

Menurut Poenka, perbuatan kedua polisi itu bisa dijerat dengan Undang-Undang Keadaan Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Berdasarkan undang-undang ini, tindakan dua anggota polisi dapat dijatuhi hukuman mati atau penjara seumur hidup.

“Atau maksimal 20 tahun penjara,” kata Poengki.

Selain itu, Poenki mengatakan, kejadian tersebut bertentangan dengan upaya polisi dan TNI yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi yang berusaha membasmi KKB di Papua.

KKB yang dicap sebagai teroris oleh pemerintah meneror masyarakat dan aparat keamanan di Papua.

Ironisnya, di satu sisi Polri dan TNI yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi berusaha membasmi KKB di Papua, meneror masyarakat dan aparat keamanan, namun di sisi lain ada aparat kepolisian yang jual amunisi KKB,” kata Poengki.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Badan Reserse Kriminal Polda Papua Kombes Faizal Rahmadani membenarkan penangkapan dua oknum polisi yang diduga terlibat dalam penjualan amunisi tersebut.

Dia menjelaskan, dua petugas yang ditangkap pada Rabu (27/10) itu adalah Brigjen J.O., anggota Polsek Nabire, dan A.S. Bripda, seorang perwira polisi Yapena, dan keduanya ditahan oleh Polda Papua untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kombes Faisal mengatakan, saat ditangkap, tidak ditemukan barang bukti amunisi karena diyakini sudah dijual, sehingga penyidik ​​masih mendalami orang tersebut.

“Diberitakan keduanya menjual amunisi KKB, tetapi kelompok mana yang sedang diselidiki,” kata Combes Faisal.

Perlu dicatat bahwa Kabupaten Nabire sering dihadapkan pada pelanggaran keamanan dari KKB karena merupakan salah satu wilayah yang dapat menjangkau berbagai wilayah sekitarnya melalui jalur darat dan udara, antara lain Intan Jaya, Punchak dan Punchak Jaya.

Artikel sebelumyaMahasiswa didorong untuk membantu pelaku UMKM memaksimalkan digitalisasi keuangan.
Artikel berikutnyaMenjawab panggilan polisi yang tidak kritis dengan corat-coret