Beranda News Komnas HAM bertanya kepada manajemen Arema FC tentang tragedi di Kanjurukhan

Komnas HAM bertanya kepada manajemen Arema FC tentang tragedi di Kanjurukhan

Malang, Jawa Timur (ANTARA) – Komnas HAM menanyakan kepada pengurus Arema Football Club tentang tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Jawa Timur, usai pertandingan melawan Persebay Surabaya Sabtu (1/10) lalu. .

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat mengatakan, ada beberapa hal yang perlu Komnas HAM dari pernyataan manajemen Arema FC terkait tragedi yang menewaskan 134 orang tersebut.

“Untuk manajemen Arema FC, kami sedang melakukan investigasi mendalam. Misalnya hubungan PSSI dengan klub, PT LIB dengan klub, termasuk hubungan antara penyiar dan klub,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Komnas HAM saat ini sedang mendalami hubungan terkait, terutama terkait aturan yang dianut Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), termasuk yang dianut oleh World Football Authority, FIFA.

Sosialisasi aturan keselamatan yang disiapkan PSSI, termasuk yang dianut FIFA, akan dipelajari lebih mendalam, katanya. Selain itu, Komnas HAM juga mempelajari informasi dari Panpel Ketua Arema FC dan petugas keamanan Arema FC.

“Aturan yang dikembangkan oleh PSSI serta aturan yang diadopsi oleh FIFA saat berlaku, misalnya mengenai aturan keselamatan, saat berlaku. Jadi kami melihat berbagai macam peristiwa di Kanjurukhan, ini yang sedang kami selidiki, ”katanya.

Ia menambahkan, ingin melihat lebih dalam pengelolaan sepak bola Indonesia pasca tragedi stadion Kanjuruhan. Apakah aturan yang ada diikuti dengan benar atau hanya sekedar aturan?

“Karena fakta sebelumnya, itu hanya seminar. Kalau seminar itu hanya sertifikat keikutsertaan dalam seminar, bukan sertifikasi dalam rangka ujian, dan sebagainya,” ujarnya.

Sabtu (1/10) terjadi kericuhan usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Kekalahan tersebut memaksa beberapa suporter turun dan turun ke lapangan.

Kerusuhan meningkat ketika beberapa suar dilemparkan, termasuk barang-barang lainnya. Pasukan keamanan gabungan berusaha membubarkan para pendukung dan akhirnya menggunakan gas air mata.

Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan 134 kematian akibat patah tulang, cedera kepala dan leher, serta asfiksia atau penurunan kadar oksigen dalam tubuh. Selain itu, ratusan orang dilaporkan mengalami luka ringan, beberapa di antaranya serius.

Artikel sebelumyaPSI mengejar kemenangan Ganjar Pranovo-Yenny Wahid
Artikel berikutnyaBandung menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Majelis Permusyawaratan