Beranda Nusantara KLHK: Satwa liar muncul di taman nasional selama pandemi

KLHK: Satwa liar muncul di taman nasional selama pandemi

Pengunjung harus dikelola agar hewan-hewan tersebut dapat hidup dengan baik.

Malang, Jawa Timur (ANTARA) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut virus Corona banyak melahirkan satwa liar di sejumlah taman nasional selama pandemi.

KLHK Wiratno, Direktur Jenderal Departemen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat mengatakan dampak dari pandemi COVID-19 telah menyebabkan terhentinya kegiatan pariwisata, sehingga banyak satwa liar. .

“Turis semakin sedikit, hampir tidak ada. Di banyak taman nasional, ini menunjukkan perkembangan satwa liar yang menarik. Biasanya tidak muncul, sekarang muncul,” kata Viratno.

Virata menjelaskan, kemunculan satwa liar tersebut telah tercatat di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, serta Taman Nasional Meru Betiri, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Banyuwangi.

Dilaporkan bahwa ribuan rusa hidup di antara satwa liar di Taman Nasional Baluran, termasuk beberapa banteng dan macan tutul. Kemunculan hewan tanah liat itu terekam kamera trap.

“Di Baluran, ribuan rusa muncul di jalan-jalan yang biasa dilalui wisatawan. Ada juga banteng, termasuk macan tutul. Menarik juga untuk memotret dengan camera trap di Baluran,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, satwa liar juga telah dilaporkan di kawasan hutan lindung di Indonesia. Salah satunya adalah macan tutul. Kemunculan satwa liar tersebut menandakan bahwa fauna yang ada masih terjaga.

Pandemi virus corona yang pertama kali merebak di Wuhan China menunjukkan bahwa alam butuh waktu untuk istirahat, katanya. Dengan sedikitnya jumlah wisatawan yang berkunjung, fauna dapat berkembang biak dengan damai.

“Jadi pandemi ini benar-benar menunjukkan bahwa alam perlu istirahat. Saat kita istirahat, satwa liar punya banyak peluang untuk berkembang biak secara damai,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, lanjut Viratno, kunjungan wisatawan ke taman nasional harus dilakukan dengan baik agar tidak melanggar perlindungan alam, termasuk flora dan fauna di dalamnya.

“Pengunjung perlu dikelola agar satwanya bisa hidup dengan baik,” ujarnya.

Artikel sebelumyaBRIN Dorong Pendirian Indonesia Mangrove Data Repository
Artikel berikutnyaBPBD Sumbar perbaiki sirene tsunami yang rusak