Beranda Warganet Kepala BNPB minta masyarakat Sumbar waspada gempa

Kepala BNPB minta masyarakat Sumbar waspada gempa

Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal Suharyanto meminta pemerintah dan masyarakat Sumbar untuk mewaspadai akibat gempa setelah gempa susulan melanda Kepulauan Mentawai.

Suharyanto, dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa di Jakarta, meminta masyarakat yang mengungsi ke pegunungan untuk kembali ke rumah mereka, serta mereka yang rumahnya tidak mengalami kerusakan struktural atau terkena gempa parah.

Suharyanto memastikan, rangkaian gempa yang terjadi tidak menimbulkan tsunami, sebagaimana tertuang dalam laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Rangkaian gempa pada Senin (29 Agustus) tidak menimbulkan tsunami, sehingga masyarakat yang saat ini mengungsi di daerah perbukitan dapat kembali ke rumahnya masing-masing, bagi yang rumahnya tidak rusak atau rusak parah akibat gempa tersebut,” bunyi pernyataan tersebut. kata. pesan. Suharyanto.

Suharyanto mengatakan, rumah yang rusak secara struktural atau rusak berat dapat berupa rumah dengan tiang penyangga yang patah, kerusakan dinding yang luas, dan kerusakan pada tiang atau rangka atap. Jika Anda mengalami kondisi ini, pemilik rumah disarankan untuk segera melaporkannya ke BPBD setempat.

“Masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan struktur atau rusak berat dapat melaporkan data kerusakan bangunan ke BPBD setempat untuk pendataan,” kata Suharyanto.

Selain itu, Suharyanto mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa. Peringatan dini gempa dapat diperoleh dengan menggunakan barang-barang yang mudah ditemukan di rumah, seperti kaleng bekas.

“Tetap waspada dan bersiap untuk kemungkinan gempa susulan. Masyarakat di rumah masing-masing dapat menyiapkan peringatan dini gempa sederhana dengan meletakkan kaleng-kaleng bekas berlapis-lapis sehingga jika terjadi gempa, kaleng-kaleng tersebut jatuh dan mengeluarkan suara sebagai tanda bahwa mereka harus dievakuasi. rumahnya,” kata Suharyanto.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk memastikan tidak ada barang-barang besar seperti lemari, lemari es, meja dan lain-lain yang dapat menghambat proses evakuasi keluar rumah saat terjadi gempa.

Terakhir, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, Suharyanto berpesan agar dapat mengenali ciri-ciri gempa yang dapat memicu tsunami.

“Jika gempa berlangsung lebih dari 30 detik, baik dengan guncangan kuat maupun goyangan, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir harus segera lari ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan tsunami,” kata Suharyanto.

Gempa berkekuatan (M) 6,1 yang melanda Kepulauan Mentawai pada Senin (29 Agustus) memiliki 13 gempa susulan dengan magnitudo 3,5 hingga 6,1. Serangkaian gempa terjadi di segmen megathrust Mentawai yang diketahui menyimpan potensi energi gempa hingga 8,9 M dan dapat menimbulkan tsunami.

Data per Selasa pukul 07.00 WIB, dilaporkan satu gedung SMP Negeri 3 Simallegi rusak ringan, satu gedung SMP 11 Simallegi rusak berat, satu gedung Puskesmas Betaet rusak ringan, satu gereja rusak ringan, satu gedung kantor Balai Camat Siberut Barat mengalami kerusakan ringan, sebagian lainnya masih dalam proses pendataan.

Gempa yang cukup kuat di Pulau Siberut memaksa 2.326 warga mengungsi ke pegunungan. Peningkatan jumlah pengungsi tersebut disebabkan oleh ketakutan masyarakat akan gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Artikel sebelumyaDLH Bandarlampung Perbaiki Sampah Retaliasi untuk Mencegah Korupsi
Artikel berikutnyaWakil Gubernur Jawa Barat Uu Rujanul Sebut Pernikahan dan Poligami Solusi HIV