Beranda Warganet Kendala Sosial, Upaya Kota Palu Tahan Peningkatan Kasus COVID-19

Kendala Sosial, Upaya Kota Palu Tahan Peningkatan Kasus COVID-19

Pemerintah Kota Palu bersama pemangku kepentingan terkait saat ini memberlakukan berbagai pembatasan sosial untuk menekan peningkatan kasus COVID-19 di Palu, sehingga kembali pada keadaan menurun, stabil, dan terkendali.

Palu (ANTARA) – Kasus infeksi COVID-19 di Indonesia kembali meningkat, khususnya di Jakarta, ibu kota negara Indonesia, namun menurut berbagai laporan, juga terjadi di daerah di luar Jakarta.

Sudah banyak warga yang terjangkit virus COVID-19 varian baru yang dilihat dari hasil penelitian jauh lebih berbahaya dan mudah menulari manusia, serta sulit untuk mendeteksinya hanya dengan sekali usap atau apusan.

Secara keseluruhan, jumlah orang yang terpapar COVID-19 meningkat karena tidak disiplin dalam penggunaan protokol kesehatan (prokes) untuk mencegah penularan dan penyebaran COVID-19, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan tinggal jauh dari keramaian.

Hal yang sama juga terjadi di Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah (Sulawesi). Kasus infeksi COVID-19 di kalangan warga perlahan tapi pasti terus meningkat sejak pekan lalu.

Bahkan, jumlah warga yang terpapar COVID-19 lebih tinggi dibandingkan jumlah warga yang terpapar COVID-19 yang kemudian dinyatakan sembuh.

Secara kumulatif, hingga saat ini, jumlah warga Palu yang terpapar COVID-19 sebanyak 3.444. Dari 3.444 orang, 3.208 orang dinyatakan sembuh. Kemudian 105 orang meninggal dunia, dan 131 orang saat ini masih menjalani karantina sendiri atau di Puskesmas milik Pemerintah Daerah (Pemda).

Pemerintah Kota Palu bersama pemangku kepentingan terkait saat ini memberlakukan berbagai pembatasan sosial untuk menekan peningkatan kasus COVID-19 di Palu, sehingga kembali pada keadaan menurun, stabil, dan terkendali. Upaya tersebut semata-mata untuk melindungi warga dari dampak COVID-19 dan yang terpenting varian baru virus corona yang mematikan.

Upaya tersebut termasuk penerapan berbagai kebijakan pembatasan bisnis untuk memastikan bahwa warga dan bisnis mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

Batasan jam kerja

Wali Kota Palu Hadianto Rasiid memberlakukan kembali jam kerja bagi para pelaku usaha di Kota Palu untuk mengendalikan penularan dan penyebaran COVID-19.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Walikota Palu Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pembatasan Jam Kerja Bagi Pelaku Usaha di Kota Palu, yang berlaku mulai Senin (21/6) 2021 sampai dengan waktu yang belum ditentukan. tanggal. …

Dalam surat tersebut, Wali Kota Palu mengatakan aturan pembatasan jam buka berlaku untuk tempat hiburan, karaoke, panti pijat atau spa tradisional, pusat perbelanjaan atau mall, dan supermarket.

“Restoran, restoran, kafe, kafe, dan tempat yang menyajikan makanan dan minuman dapat beroperasi hingga pukul 21.00 WITA dengan kepatuhan yang lebih ketat terhadap protokol kesehatan COVID-19 dan pembatasan jumlah pengunjung sebesar 50 persen,” tegasnya.

Bisnis yang melanggar kebijakan ini akan dikenakan sanksi mulai dari peringatan lisan atau tertulis hingga denda administrasi sebesar Rs 2 juta yang akan diserahkan kepada pejabat yang ditunjuk.

“Puncaknya bisa berupa penghentian sementara kegiatan usaha sambil menunggu pencabutan izin usaha jika melanggar aturan yang telah ditetapkan,” katanya.

Selain itu, Wali Kota Palu juga mewajibkan setiap bangunan komersial mampu menampung maksimal 50 persen dari total daya tampung pengunjung sehingga aturan jarak pengunjung bisa diterapkan.

Vaksinasi untuk warga

Upaya bersama ini diharapkan menjadi satu dalam upaya memerangi penyebaran dan penularan COVID-19, dengan warga Kota Palu menerima vaksin COVID-19.

Wali Kota Palu Hadianto Rasiid berharap kegiatan vaksinasi COVID-19 kota ini bisa mencapai 80 persen dalam dua pekan ke depan, sehingga kekebalan masyarakat terjamin.

Untuk memenuhi harapan tersebut, Pemerintah Kota Palu telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Puskesmas untuk memaksimalkan kegiatan vaksinasi COVID-19.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan dalam rangka pencegahan, sekaligus untuk memperkuat daya tahan tubuh atau imunitas masyarakat agar tidak mudah terpapar COVID-19, meski Kota Palu saat ini masih dalam kondisi kritis. zona kuning, penularan dan penyebaran COVID-19

Oleh karena itu, dengan status zona kuning, pemerintah kota Palu terus mengambil langkah strategis maksimal untuk menekan penyebaran COVID-19, sehingga statusnya berubah menjadi zona hijau.

“Langkah yang perlu dilakukan adalah memaksimalkan jumlah vaksinasi dan kemudian memperketat disiplin penerapan protokol kesehatan di masyarakat dan di lingkungan Pemkot Palu,” ujarnya.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak ragu atau khawatir dengan vaksinasi karena pemerintah memastikan produk yang digunakan aman dan halal, serta secara cerdas menyerap informasi yang beredar di masyarakat.

Diharapkan berkat Festival Vaksinasi COVID-19 yang dicanangkan beberapa waktu lalu, acara vaksinasi akan semakin marak, karena semua usia produktif akan diundang untuk mengikuti program tersebut.

Saat ini, vaksinasi COVID-19 yang perlu dikuatkan ditargetkan pada lansia, karena meski capaian lansia masih berkisar 13 persen, namun angka tersebut dinilai masih cukup rendah.

Dengan demikian, fasilitas kesehatan harus memastikan bahwa layanan vaksinasi berfungsi dengan baik di masyarakat.

“Apa yang kami lakukan, tentu saja, untuk kebaikan bersama. Kami ingin penyebaran COVID-19 di Palu ditekan semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Artikel sebelumyaKasus positif COVID-19 di Sulawesi Tenggara naik 111
Artikel berikutnyaKelompok Mitigasi IDI, bersama dengan asosiasi medis profesional, menyerukan kesehatan masyarakat yang ketat.