Beranda Warganet Kemenko PMK Dorong Peningkatan Harapan Bencana Hidrometeorologi

Kemenko PMK Dorong Peningkatan Harapan Bencana Hidrometeorologi

bencana hidrometeorologi harus menjadi fokus kita

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mendorong upaya peningkatan potensi bencana hidrometeorologi guna mencegah banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah, Distribusi, dan Penanggulangan Bencana Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Letjen (Purn) Sudirman mengatakan, 98 persen dari 2.431 bencana alam terakhir pada tahun 2021 adalah bencana hidrometeorologi.

“Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sebagai kementerian koordinator yang juga memiliki tanggung jawab dan fungsi di bidang penanggulangan bencana, akan terus mendorong upaya peningkatan prediktabilitas dan kesiapan hidrometeorologi,” kata Sudirman di acara para duta besar. : “Pendekatan Belanda terhadap banjir” … Kebijakan Risiko Bencana dan Pengelolaan Air, dipantau secara online dari Jakarta, Selasa.

Sudirman mengatakan, upaya tersebut juga dibarengi dengan pengembangan kemampuan beradaptasi dan tanggap bencana alam sebagai ciri khas bangsa Indonesia untuk melawan bencana alam dan tumbuh dalam perkembangannya.

Adapun ancaman hidrometeorologi, kata Sudirman, seharusnya tidak menjadi bencana. Memutus siklus bencana alam membutuhkan pemahaman semua aspek, baik dalam mengurangi keterpaparan terhadap bencana alam maupun dalam kerentanan dan potensi masyarakat.

“Penanganan bencana hidrometeorologi harus menjadi fokus kita bersama, tidak hanya selama dan setelah bencana, tetapi juga pada fase pra-bencana,” kata Sudirman.

Upaya pencegahan bencana, kata dia, sangat penting dilakukan mulai dari tingkat provinsi hingga tingkat terendah. Selain itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan telah meminta pemerintah daerah untuk mempersiapkan dan memberikan pelatihan bagi semua organisasi perangkat daerah (RRO) sumber daya mereka.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan juga telah meminta Pemerintah daerah untuk melakukan simulasi sesuai dengan rencana kontinjensi, mengumpulkan relawan untuk memberikan informasi daerah rawan bencana, dan menyediakan tempat evakuasi dan aktivasi Pusdalops di BPBR.

Karena dampak dan penanganan bencana alam bersifat multidimensi dan interdisipliner, Sudirman berharap penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan kolaborasi banyak pemangku kepentingan.

“Penanggulangan bencana diwujudkan dalam kolaborasi yang seluas-luasnya dengan partisipasi banyak pemangku kepentingan, salah satunya solidaritas dan kedermawanan dalam memerangi COVID-19 dan bencana alam lainnya yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,” ujarnya.

Acara Ambassador Talks dipandu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diwakili oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Griens.

Artikel sebelumyaPahlawan Aceh Laksamana Malakhayati adalah nama sebuah jalan di Jakarta.
Artikel berikutnyaKondisi psikologis mahasiswa Unri yang menjadi korban penganiayaan telah membaik.