Beranda Trending Kemendikboudrystek: Media film akurat mengenali perbedaan budaya

Kemendikboudrystek: Media film akurat mengenali perbedaan budaya

bahwa masyarakat Muslim di seluruh dunia dibedakan oleh beragam, praktik budaya yang beragam.

Jakarta (ANTARA) – Pandu Pradana, Pakar Budaya Bidang Perfilman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendiqboudrystek), mengatakan film merupakan media pengajaran yang tepat untuk membahas perbedaan budaya dan toleransi.

Menurut Pandu, hal ini sejalan dengan banyaknya permasalahan yang terkait dengan komunitas Muslim di berbagai belahan dunia, yang mulai muncul baik di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam maupun yang minoritas.

“Kesalahpahaman komunitas Muslim menjadi semakin jelas. Perbedaan dan kesalahpahaman ini merupakan kesenjangan budaya yang dapat dijembatani dengan membicarakan perjuangan, harapan dan keindahan budaya berbagai komunitas Muslim di seluruh dunia, film dan festival film menjadi salah satunya. ” kata Pandu di Jakarta, Rabu.

Selain itu, ia berpendapat bahwa umat Islam sekarang menarik perhatian seluruh dunia karena berbagai alasan; mulai dari kekejaman atas nama agama, perselisihan, hingga informasi teologis.

“Sementara itu, ada fakta yang jelas tetapi diabaikan bahwa masyarakat Muslim di seluruh dunia dibedakan oleh praktik budaya yang beragam, budaya yang berbeda. Sayangnya, masyarakat ini terisolasi satu sama lain karena sejumlah faktor seperti geografi, politik, dan ekonomi, ”katanya. .

“Film adalah bingkai realitas sosial yang memungkinkan Anda memahami apa yang terjadi di dunia ini. Festival film juga merupakan sarana pendidikan, masyarakat dapat melihat dunia Islam yang penuh warna dan bergejolak di sana-sini dengan tenang dan penuh pertimbangan,” tambahnya.

Isu perbedaan dan intoleransi juga menjadi perhatian khusus Kementerian Pendidikan dan Teknologi, kata Pandu. Ia melanjutkan, Menteri Pendidikan dan Teknologi Nadeem Makarim berbicara tentang dunia pendidikan di Indonesia yang menghadapi tantangan serius, yaitu bullying, pelecehan seksual dan intoleransi.

“Hal-hal tersebut tidak hanya menghambat terselenggaranya lingkungan belajar yang baik, tetapi juga menimbulkan trauma yang berkepanjangan bagi seorang anak, seseorang,” kata Pandu.

Menurutnya, isu sosial seperti itu masih relevan dan perlu disuarakan lebih keras di berbagai media, termasuk bioskop.

“Ada kaitannya dengan isu yang diangkat dalam film tersebut, salah satunya adalah intoleransi yang masih ada di sekolah-sekolah hingga saat ini. Pada dasarnya, sekolah adalah tempat di mana identitas dan kekayaan suatu bangsa dikukuhkan,” kata Pandu.

Artikel sebelumyaPuan menjelaskan prinsip kerja sama antar negara dalam menghadapi guncangan ekonomi
Artikel berikutnyaPameran TNI Alucista