Beranda Hukum Kapolda NTT berharap tokoh agama bisa membantu masyarakat memahami apa yang terjadi.

Kapolda NTT berharap tokoh agama bisa membantu masyarakat memahami apa yang terjadi.

Pemerintah dan tokoh masyarakat, serta tokoh agama, juga harus memberikan pemahaman kepada rakyatnya.

Kupang (ANTARA) – Kapolda Nusa Tenggara Timur (Kapolres NTT) Irjen Lotharia Latif mengharapkan sejumlah tokoh agama di NTT, khususnya di Kota Kupang, turut memastikan pemahaman masyarakat tentang protokol kesehatan (procs), khususnya masalah pemakaman. tubuh COVID-19.

“Kami terus mensosialisasikan terkait dengan peristiwa penangkapan mayat tersebut. Semua pihak, baik pemerintah maupun tokoh masyarakat, serta tokoh agama, juga harus memberikan pemahaman kepada masyarakatnya untuk mengikuti protokol kesehatan dengan baik,” ujarnya di Kupang, Selasa. tapi ditahan polisi.

Kapolda NTT mengatakan pengawasan dan perawatan di setiap rumah sakit juga ditingkatkan sejak penyitaan jenazah pertama kali terjadi di rumah sakit yang sama.

Kapolda NTT juga sudah tegas menyatakan akan menindak tegas siapa saja yang berani ikut atau mengetahui dan ingin mengambil jenazah pasien COVID-19 secara paksa.

Namun, kata dia, dalam kasus seperti yang sudah terjadi, dibutuhkan kesabaran dan sikap manusiawi.

“Terkadang kita juga sadar akan suasana psikologis sosial dan spiritual yang menyebabkan kesedihan, jadi kita juga harus bersabar menghadapi hal-hal tersebut,” ujarnya.

Tapi, menurut Kapolres, jika sudah melebihi batas, tentu akan diproses sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kapolres juga mengatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas pemindahan paksa jenazah akan dihukum dan dijebak sesuai dengan pasal 212-218 KUHP dan pasal 93 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.

Kapolres NTT mengatakan jika ingin mendoakan saudara yang meninggal karena COVID-19 bisa dibicarakan dan pasti dibolehkan.

Artikel sebelumyaPolda Kalsel mengatakan 100 gram sabu-sabu dikemas dalam jajanan.
Artikel berikutnyaPolisi tahan teroris yang membagikan wafel dengan benda tajam di Jember