Beranda Hukum Jenny Wahid: Regulasi Cryptocurrency Harus Menghilangkan Ketidakpastian

Jenny Wahid: Regulasi Cryptocurrency Harus Menghilangkan Ketidakpastian

Jakarta (ANTARA) – Pendiri Firma Hukum Islam Zannuba Ariffa Chafsoh atau Yenni Wahid berharap pemerintah dapat mengesahkan peraturan yang menghilangkan harara atau ketidakpastian dalam transaksi cryptocurrency sebagai komoditas.

“Kami meminta pemerintah dalam hal ini, Bappebti membuat aturan yang jelas agar tidak mengarah pada Garar atau ketidakpastian, tidak merugikan masyarakat,” kata Jenny mengutip siaran pers di Jakarta, Rabu.

Pernyataan Jenny merupakan salah satu hasil dari transaksi kripto Bahtsul Masail Halal-Haram yang mempertemukan kiai dan ulama dari Nahdlatul Ulam (New York) akhir pekan lalu. Pada forum studi Islam, diputuskan bahwa aset kripto adalah kekayaan (mal) menurut fiqh.

“Karena dia adalah kekayaan, pertukaran itu sah sampai terjadi. Gararkata jennie.

Menurut Jenny, keputusan ini rata-rata karena beberapa peneliti bakhtsul masail percaya bahwa transaksi cryptocurrency sedang berlangsung. Garar, sementara beberapa ilmuwan lain mengatakan tidak.

“Alam Garar itu bisa diperdebatkan karena orang melihatnya dari sudut pandang masing-masing. Namun, ulama Bahsul Masail sepakat bahwa transaksi kriptografi harus bebas dari garar,” kata putri Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Oleh karena itu, menurut Jenny, saat menyusun aturan yang nantinya akan mengarah pada terciptanya bursa kripto, pemerintah harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat muslim Indonesia yang tidak mau. Garar dalam transaksi mata uang kripto.

“Pemerintah mengeluarkan regulasi yang tepat dengan mempertimbangkan semua sudut pandang masyarakat,” kata Jenny.

Jenny mengatakan bahwa peran pemerintah dalam mengatur cryptocurrency ini sangat besar.

“Kami juga memahami bahwa masih banyak masalah, terutama karena kami tahu bahwa di luar banyak negara, transaksi kriptografi dilarang,” katanya.

Jenny juga menghimbau kepada masyarakat bahwa tidak mudah melakukan transaksi kripto jika tidak mengetahui aset virtual ini. Namun, mereka yang sudah memiliki pengetahuan yang cukup dapat membuat kesepakatan untuk alasan pribadi, apakah mereka ada atau tidak. Garar

“Jika mereka mengatakan bahwa ada garar dalam cryptocurrency, maka ini tidak diperbolehkan. Bagi mereka yang mengatakan itu tidak ada Garar, yang juga didukung oleh ulama Bahtsul Masail, maka cryptocurrency bisa dipertukarkan,” ujarnya.

Jenny mengakui masih perlu adanya dialog dan kajian mendalam tentang aset kripto dari perspektif Islam. Untuk itu, kata dia, pembahasan besar-besaran mengenai masalah ini akan terus dilakukan.

“Kami membutuhkan lebih banyak dialog, kami membutuhkan lebih banyak diskusi di masa depan,” katanya.

Artikel sebelumyaPemkot Pangkalpinang Pulangkan 10 Tenaga Kerja dari Cabang Teluk Bayur
Artikel berikutnyaBGPT untuk teknologi pembersihan – inovasi bendungan untuk waduk laut