Beranda Nusantara Harimau sumatera dilaporkan telah kembali ke kebun masyarakat di Aceh.

Harimau sumatera dilaporkan telah kembali ke kebun masyarakat di Aceh.

tim BKSDA Aceh masih ada

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melaporkan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) kembali ke perkebunan warga di Bakongan Timur, Aceh Selatan.

“Harimau itu dilaporkan masuk ke perkebunan warga di Kecamatan Bakongan Timur yang jaraknya beberapa kilometer dari pemukiman warga,” kata Kepala Seksi II BKSDA Subulussalam Aceh Selatan Aceh Hadi Sofyan di Aceh Selatan, Kamis.

Hadi mengatakan, masyarakat melaporkan harimau tersebut masuk ke dalam perkebunan pada Rabu (10/10) malam. Menurut laporan, tim BKSDA langsung meluncur ke lokasi.

“Tim BKSDA bersama perwakilan Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL dan mitra turun ke lokasi, memasang kamera, berpatroli dan mengejar harimau dari kebun warga,” kata Hadi Sofyan.

Hadi mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati perkebunan tempat ditemukannya harimau. Karena tidak diketahui seperti apa kondisi harimau tersebut.

“Tim BKSDA Aceh masih di tempat berusaha mengembalikan harimau ke hutan. Kami berharap harimau menjauh dari perkebunan sehingga warga bisa beraktivitas sehari-hari di kebun mereka,” kata Hadi Sofyan.

Sebelumnya, harimau tersebut juga masuk ke perkebunan warga di kawasan Bakonggan Timur, Kabupaten Aceh Selatan, pada Sabtu (9/10). Saat itu, tim BKSDA mengusir satwa dilindungi dengan petasan dan mendatangkan pelatih harimau.

Harimau sumatera merupakan satwa liar yang dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurut daftar hewan langka International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), hewan yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus sebagai spesies terancam punah dengan risiko kepunahan yang tinggi di alam liar. .

BKSDA Aceh mengajak masyarakat untuk bahu-membahu mendukung pelestarian khususnya harimau sumatera, tanpa merusak hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa.

Dan jangan menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, menampung, mengangkut atau memperdagangkan hewan yang dilindungi, hidup atau mati.

Kemudian jangan memasang jerat, racun, pagar listrik bertegangan tinggi, yang dapat menyebabkan kematian satwa liar yang dilindungi. Segala perbuatan melawan hukum dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, kegiatan ilegal lainnya juga dapat menimbulkan konflik antara satwa liar khususnya harimau sumatera dengan manusia. Konflik ini telah mengakibatkan kerugian ekonomi, baik manusia maupun satwa liar.

Artikel sebelumyaBNPB mengapresiasi kreativitas unsur pentaspiral di Tangguh Awards.
Artikel berikutnyaTKDN Perangkat 4G dan 5G Naik 35%, Menkominfo: Tumbuhkan Industri Dalam Negeri