Beranda Hukum Hakim menyebut tindakan Juliari Batubar "lempar batu sembunyikan tangan"

Hakim menyebut tindakan Juliari Batubar "lempar batu sembunyikan tangan"

Perbuatan terdakwa dapat digolongkan tidak sopan, misalnya melempar batu dan menyembunyikan tangan.

Jakarta (ANTARA) – Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menyebut mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubar “melempar batu dan menyembunyikan tangannya” karena membantah menerima suap senilai rupiah di wilayah Jabodetabek.

“Hal-hal yang memberatkan dan hal-hal yang meringankan dalam perbuatan terdakwa perlu dipertimbangkan. Keadaan yang memberatkan, perbuatan terdakwa dapat dikualifikasikan sebagai tidak sopan, misalnya melempar batu dan sembunyi tangan. Jangan berani bertanggung jawab, bahkan mengingkari perbuatanmu,” kata anggota kehakiman, Yusuf Pranovo, membacakan putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin.

Sidang vonis hari ini dilakukan melalui “videoconference” dengan Giuliari dan beberapa penasihat hukum di gedung Pusat Pendidikan Antikorupsi PKC, serta jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (PKT), majelis hakim dan beberapa di antaranya. Penasihat hukum Juliari ada di pengadilan. Korupsi Jakarta.

“Perbuatan terdakwa dilakukan pada saat darurat nonbencana yaitu pada saat merebaknya COVID-19,” kata Hakim Yusuf.

Pertimbangan memberatkan ketiga adalah korupsi di wilayah hukum Peradilan Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Hakim juga menyebutkan beberapa hal yang meringankan bagi Giuliari, yaitu Giuliari Batubara tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana.

“Terdakwa sudah cukup menderita dihina, dicaci maki, dipermalukan oleh masyarakat. Terdakwa dinyatakan bersalah oleh masyarakat, padahal secara hukum terdakwa belum tentu bersalah sebelum putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap,” kata hakim. …

Selain itu, hakim menilai Juliari bersedia bekerja sama.

“Selama persidangan selama kurang lebih empat bulan, terdakwa hadir dengan tertib, tidak pernah bertindak dengan berbagai alasan yang dapat mengakibatkan persidangan tidak berjalan lancar. Padahal, selain persidangan untuk dirinya sendiri sebagai terdakwa, terdakwa harus juga hadir sebagai saksi dalam kasus Adi Vahyono dan Mateus Joko Santoso,” kata hakim.

Dalam putusannya, majelis hakim memvonis mereka 12 tahun penjara ditambah denda Rp 500 juta, tambahan 6 bulan penjara, ditambah kewajiban membayar ganti rugi sebesar Rp 14.597.450.000, denda tambahan 2 tahun penjara. penjara. penjara.

Dia juga kehilangan hak untuk dipilih ke jabatan publik selama 4 tahun setelah menjalani masa jabatan utamanya.

Dalam hal ini, terbukti Juliari P. Batubara selaku Menteri Sosial RI periode 2019-2024 menerima Rp 1,28 miliar dari Harry Van Sidabukke, Rp 1,95 miliar dari Ardian Iskandar Maddanatiya dan beberapa lainnya Rp 29,252 miliar. .pemasok barang.

Maksud dari suap tersebut agar Juliari menunjuk PT Pertani (Persero) dan PT Mandala Hamonangan Sude yang diwakili oleh Harry Van Sidabukke, PT Tigapilar Agro Utama yang diwakili oleh Ardian Iskandar dan beberapa pemasok barang lainnya sebagai penyedia jasa bantuan sembako.

Suap tersebut diterima dari Mateus Joko Santoso yang saat itu menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bantuan Sembako periode April hingga Oktober 2020, dan Adi Vahyono selaku Kepala Biro Umum Kementerian Sosial, serta selaku PPK pemberian bantuan sembako COVID-19 periode Oktober hingga Desember 2020.

Hakim menilai terbukti Giuliari memerintahkan Mateus Joko dan Adi Vachiono untuk menuntut pembayaran wajib sebesar Rs 10.000 per paket dari pemasok makanan.

“Tindakan responden atas rekomendasi dan pengelolaan perusahaan bantuan sosial sembako terkait COVID-19 merupakan bentuk intervensi, sehingga tim teknis tidak bisa beroperasi secara normal dan tidak menentukan pilihan di awal proses, bahkan Padahal perusahaan itu. Tidak memenuhi syarat sebagai pemasok,” kata anggota rapat, Joko Subagio.

Menurut hakim, Giuliari menerima bayaran Rp 14,7 miliar dari Mateus Joko dan Adi Vahyono melalui orang-orang dekat Giuliari, yakni tim teknis Menteri Sosial Kuku Ari Vibovo, asisten Giuliari Eko Budi Santoso dan Giuliari Selvi. sekretaris pribadi.

Mateus Joko dan Adi Vahiono kemudian juga menggunakan “royalti” untuk kegiatan operasional Giuliari sebagai Menteri Sosial dan kegiatan operasional lainnya di Kementerian Sosial, seperti membeli ponsel, membayar sampel apus, membayar makanan dan minuman. , pembelian sepeda Brompton, pembayaran royalti kepada artis Cita Citata, pembayaran hewan kurban untuk sewa jet pribadi.

Terkait keputusan tersebut, Giuliari Batubara mengaku sudah memikirkannya selama 7 hari.

Artikel sebelumyaMendagri sedang melihat anggaran negara daerah untuk memprioritaskan pemotongan. "keterbelakangan pertumbuhan"
Artikel berikutnyaPolisi memburu tiga orang yang menjatuhkan bom