Beranda Warganet Gubernur: Perluasan PPKM Efektif Kurangi COVID-19 di Jawa Timur

Gubernur: Perluasan PPKM Efektif Kurangi COVID-19 di Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) – Gubernur Jawa Timur Hofifa Indar Parawansa mengatakan perluasan Pembatasan Kegiatan Umum (PPKM) selama ini efektif menekan penyebaran COVID-19, khususnya di wilayah setempat.

“Terima kasih kepada seluruh warga Jatim dan semua pihak yang telah disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dan telah bekerja dengan giat untuk melakukan vaksinasi di tingkat PPKM ini,” ujarnya saat ditemui usai menerima dan merujuk gubernur kepada alumni IPDN XXVII 2021 di BPSDM. Gedung Jawa Timur di Surabaya. , Selasa.

Efektivitas perluasan PPKM dapat dinilai Kementerian Kesehatan RI yang diukur dari laju peningkatan kasus dan kemampuan merespons COVID-19 di Jawa Timur, ujarnya.

Per 9 Agustus 2021, jumlah kabupaten/kota di Jawa Timur dengan PPKM Level 4 yang semula 30 daerah, kini menjadi 18.

18 kabupaten/kota di tingkat 4 Tulungagung, Sidoarjo, Madiun, Gresik, Surabaya, Mojokerto, Malang, Madiun, Kediri, Blitar dan Batu.

Selain itu, kabupaten tersebut adalah Trenggalek, Nganjuk, Malang, Lumajang, Bangkalan, Lamongan dan Mojokerto.

Kemudian daerah yang berada di Level 3 dibandingkan delapan kabupaten/kota sebelumnya kini menjadi 19 kabupaten/kota.

Informasi lengkap Kabupaten Pasuruan, Pamekasan, Pasitan, Kediri, Sumenep, Probolinggo, Tuban, Jember, Bojonegoro, Jombang dan Ponorogo.

Kemudian – Kabupaten Blitar, Banyuwangi, Situbondo, Ngawi, Bondovoso, Magetan, Kota Probolinggo dan Pasuruan.

“Bahkan ada daerah di Jawa Timur yang berstatus PPKM Level 2 yaitu Kabupaten Sampang,” kata orang nomor satu di Pemprov Jatim itu.

Hofifa meminta masyarakat menunjukkan bahwa Jatim mampu mengatasi segala keadaan dan berusaha mempertahankan capaian saat ini.

“Berbagai upaya harus terus ditingkatkan untuk lebih menahan penyebaran COVID-19. Jangan sampai melemah dan kembali ke level sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu, tingkat PPKM ini juga berdampak signifikan terhadap penurunan tingkat hunian di rumah sakit.

Dibandingkan dengan dimulainya PPKM dari 3 Juli hingga 9 Agustus 2021, okupansi tempat tidur di rumah sakit isolasi di Jawa Timur turun dari 81 persen menjadi 59 persen, menurut Dinas Kesehatan Jawa Timur.

Kemudian, untuk rumah sakit darurat, dari 69 persen menjadi 49 persen, atau 20 persen, dan jumlah tempat tidur di bangsal isolasi turun menjadi 38 persen dari sebelumnya 50 persen, dan di unit perawatan intensif, jumlah tempat tidur turun dari 78 persen menjadi 73 persen.

“Nilai PPKM ini juga bisa dinilai dari penurunan BOR (Bed Occupancy) di rumah sakit, saat ini di bawah standar WHO sebesar 60 persen untuk bangsal isolasi dan rumah sakit darurat dan rumah karantina,” ujarnya.

Artikel sebelumyaMenteri Johnny: Orkestrasi Komunikasi Publik Dukung Penanganan Pandemi
Artikel berikutnyaJumlah pasien yang sembuh dari COVID-19 di rumah bertambah 2.648