Beranda Nusantara FSC: Perhutani Pine Resin Raih Sertifikasi Eco-Label Pertama di Indonesia

FSC: Perhutani Pine Resin Raih Sertifikasi Eco-Label Pertama di Indonesia

Dengan demikian, pada September 2022 akan menjadi unit pengelolaan hutan pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi FSC untuk tar pinus di atas lahan seluas 107.667 ha.”

Bogor (ANTARA) – Organisasi nirlaba global Forest Stewardship Council (FSC) mengatakan getah pinus yang dikelola PT Perhutani telah mendapatkan sertifikasi ekolabel pertama di Indonesia.

“Dengan demikian akan menjadi unit kehutanan pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi FSC untuk pine tar di atas lahan seluas 107.667 ha pada September 2022,” kata Indra Setia Devi, Marketing and Communications Manager FSC Indonesia, dalam penjelasannya kepada ANTARA di Bogor. . , Jawa Barat, Minggu (23/10) 2022.

Dijelaskannya, sebagai pengelola hutan tanaman dengan sejarah panjang beroperasi sejak tahun 1897, Perhutani menyadari pentingnya menjaga hutan bersama masyarakat setempat.

Baru-baru ini, Perhutani, yang mengelola hutan tanaman di Jawa untuk produksi kayu keras, jarum, getah pinus dan daun kayu putih di Jawa, memperluas cakupan sertifikasi FSC-nya ke getah pinus.

Ia menjelaskan, total luas hutan yang dikelola Perhutani di Jawa adalah 2,5 juta hektare.

Sedangkan luas areal bersertifikat FSC adalah 399.000 ha dan mencakup 10 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yaitu KPH Banten, Ciamis, Kendal, Kebonharjo, Cepu, Randublatung, Madiun, Banyuwangi Utara, Banyumas Barat dan Lawu Ds.

Dengan sertifikasi FSC, Perhutani telah meningkatkan nilai produknya dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat yang menggantungkan hidupnya sebagai pengumpul tar pinus, katanya.

“Mengingat harga global pine tar saat ini, dapat diperkirakan bahwa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar yang bergantung padanya adalah sekitar $4 juta,” katanya.

FSC mempromosikan pengelolaan hutan lestari dengan menggunakan hasil hutan non-kayu mulai dari rotan, bambu, karet, jamur liar hingga lateks.

Hasil hutan bukan kayu saat ini digunakan sebagai bahan baku utama dan penunjang produksi berbagai produk yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.Nira pinus merupakan bahan baku marka jalan, pengisi kertas, produk kosmetik, minyak dan sabun.

Artikel sebelumyaKasus satwa liar yang masuk ke rumah di Yogyakarta semakin beragam.
Artikel berikutnyaAkibat Berhentinya Truk Sampah di Bandung