Beranda Hukum FKUB Sulteng mengingatkan semua orang tentang kemungkinan penyebaran radikalisme

FKUB Sulteng mengingatkan semua orang tentang kemungkinan penyebaran radikalisme

Radikalisme di Sulawesi Tengah tidak terbatas pada gerakan, ideologi atau pemikiran yang menyeru…

Palu (ANTARA) – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah Profesor KH Zaynal Abidin Mag mengingatkan semua pihak di wilayah Sulawesi Tengah untuk mewaspadai penyebaran radikalisme.

“Radikalisme di Sulawesi Tengah bukan hanya sekedar seruan, pemikiran atau ideologi, sudah mencapai bentuk aksi teroris. Bahkan hari ini
Kelompok MIT masih ada,” kata Profesor Zainal Abidin MAG di Palu, Kamis.

Demikian disampaikan Profesor Zaynal Abidin saat menyampaikan materinya sebagai bagian dari acara anti radikalisme bertajuk “Obrolan Perempuan”, yang diselenggarakan secara virtual oleh BNPT dan FKPT Sulteng, Kamis.

Guru besar UIN Datokarama Palu menjelaskan, dalam survei yang dilakukan BNPT bersama Alvara Research dan Yayasan Nazaruddin Umar, tren potensi radikalisme di Indonesia menurun 55,2 persen atau dalam kategori sedang sejak 2017. Pada tahun 2019 sebesar 38,4 persen kategori rendah, dan pada tahun 2020 sebesar 14 persen kategori sangat rendah.

“Namun, ini jangan membuat kita tenang, apalagi kewaspadaan menurun, penurunan statistik ini bukan berarti radikalisme akan segera berakhir,” ujarnya.

Pada tahun 2021, ia mengutip beberapa fakta yang menunjukkan bahwa kemungkinan radikalisme tetap menjadi perhatian. Berdasarkan laporan polisi, Satuan 88 Antiteror Polri menangkap 217 tersangka terorisme yang diduga terlibat dalam enam peristiwa berbeda selama tahun 2021. Salah satu yang paling sering terjadi adalah bom bunuh diri di depan gereja katedral Makassar pada Minggu (28 Maret). Sedikitnya 108 tersangka terlibat dalam insiden tersebut.

Kemudian, menurut Cominfo, per 3 April 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir 20.453 radikalisme teroris yang menyebar di situs internet serta berbagai platform media sosial.

“Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa radikalisme terus menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Sulawesi Tengah,” katanya.

Di Sulteng, kata dia, beberapa hari lalu, ketika umat Islam Sulteng berduka atas meninggalnya salah satu ulama berpengaruh di daerah itu, dunia media sosial dihebohkan dengan pernyataan negatif terhadap masyarakat. panutan.

“Polisi menangkap para penjahat, yang tidak sendirian, dan tidak hanya di satu tempat. Perbuatan para pelaku kejahatan tersebut dilatarbelakangi oleh keyakinan agama yang diklaim paling benar, dan berbagai keyakinan mereka dianggap sesat. Peristiwa ini merupakan salah satu indikator terkuat dari radikalisme. Agama adalah pusat masyarakat kita. Disadari atau tidak, mereka hadir di sekitar kita,” ujarnya.

“Selain itu, beberapa bulan lalu, kelompok MIT melakukan teror brutal terhadap masyarakat di wilayah Poso dan Shigi. Fakta di atas menunjukkan bahwa kelompok Massachusetts Institute of Technology dan radikalisme masih ada dan harus diwaspadai,” ujarnya.

Artikel sebelumyaAshley Tisdale menemukan kegembiraan baru di luar musik
Artikel berikutnya"Cumi-cumi", serial "bertahan hidup" Rilis Netflix baru, September 2021