Beranda Warganet Epidemiolog: Indonesia siap keluar dari fase darurat pandemi

Epidemiolog: Indonesia siap keluar dari fase darurat pandemi

Jakarta (ANTARA). Ivan Ariawan, Ahli Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), mengatakan Indonesia siap keluar dari fase darurat pandemi COVID-19.

“Pandemi COVID-19 di Indonesia sudah terkendali. Hampir seluruh populasi sudah memiliki tingkat antibodi yang cukup tinggi terhadap SARS-CoV-2,” kata Ivan Ariavan dalam program virtual Meet The Expert: Kapan pandemi akan berakhir? Disusul Zoom Kementerian Kesehatan RI di Jakarta pada Jumat.

Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus harian COVID-19 di Indonesia mengalami tren penurunan selama dua minggu terakhir.

Fluktuasi harian dalam insiden rata-rata 2.000 kasus tambahan, dengan rata-rata 18 kematian atau kurang dari 20 kematian sebelumnya.

Ivan mengatakan transmisi komunitas dan kapasitas respons COVID-19 hingga 21 September 2022 juga menunjukkan tingkat yang terkendali.

Angka kejadian di Indonesia sekitar 5,56 per 100.000 penduduk per minggu, atau berada pada level 1 dari indikator penularan komunitas.

Angka masuk rumah sakit setinggi 0,79 per 100.000 penduduk per minggu, atau berada pada level transmisi komunitas 1. Bahkan angka kematiannya 0,04 per 100.000 penduduk per minggu pada level 1.

Sementara itu, tingkat kepositifan berbasis tes mencapai 7,16 persen per minggu, atau masih melebihi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang tidak lebih dari 5 persen dari populasi umum.

Indikator pelacakan berada pada tingkat responsif yang memadai dengan tingkat kontak dekat 11,36 persen per minggu atau rata-rata. Angka kesembuhan rata-rata mencapai 5,26 persen per minggu.

Ivan mengatakan cakupan vaksinasi penuh di Indonesia telah mencapai tingkat yang memadai, mencapai total 72,74 persen. Di kalangan lansia, jumlah penerima vaksin lengkap mencapai 68,87%.

Proporsi penduduk dengan
Antibodi terhadap SARS-CoV-2 mencapai 87,8 persen pada Desember 2021, dan meningkat menjadi 98,5 persen pada Juli 2022.

“Namun bukan berarti mereka yang sudah divaksin tidak bisa tertular COVID-19, tetapi mengurangi tingkat keparahan dan risiko kematian akibat COVID-19,” ujarnya.

Berdasarkan analisis terhadap 1.792.360 kasus COVID-19 di Indonesia dari 1 Januari hingga 30 Juni 2022, Ivan mengatakan bahwa 2,8 persen orang yang belum pernah menerima vaksin COVID-19 berisiko 28 kali lipat meninggal. dibandingkan mereka yang menerima vaksin booster.

Sebanyak 1,5 persen orang yang menerima satu suntikan vaksin COVID-19 memiliki risiko kematian 15 kali lebih besar daripada orang yang menerima vaksin penguat terhadap COVID-19.

Sebanyak 0,6 persen orang yang menerima vaksin COVID-19 dosis penuh memiliki risiko kematian enam kali lebih besar daripada orang yang menerima vaksin booster melawan COVID-19.

“Risiko kematian paling rendah 0,1 persen adalah pada orang yang mendapat vaksin booster,” katanya.

Menurut Ivan, vaksinasi, terutama booster, secara signifikan menurunkan risiko kematian pada orang yang terinfeksi COVID-19. “Perlu mempercepat cakupan
vaksinasi, terutama vaksinasi ulang,” katanya.

Ivan menambahkan, Indonesia siap keluar dari fase darurat pandemi COVID-19 dalam upaya menjaga tingkat kekebalan penduduk yang tinggi.

“Mengurangi risiko tertularnya proses dan penggunaan aplikasi PeduliLindung di tempat umum serta meningkatkan kualitas pengawasan COVID-19,” ujarnya.

Artikel sebelumyaJumlah mahasiswa TU yang terdaftar mencapai 412.041 orang.
Artikel berikutnyaPenghargaan memprioritaskan rancangan amandemen APBD 2022 untuk bantuan sosial