Beranda Nusantara DPRD: Tumpahan CPO di Sungai Mentaya, Kalteng, Karena Tongkang Retak

DPRD: Tumpahan CPO di Sungai Mentaya, Kalteng, Karena Tongkang Retak

jangan sampai terulang lagi

Sampit (ANTARA) – Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kotavaringin Timur, Kalimantan Tengah, Muhammad Kurniavan Anwar mengatakan tumpahan minyak minyak sawit mentah (CPO) atau minyak sawit di Sungai Mentaya dekat pelabuhan Bagendang, diduga dari tongkang yang retak.

“Tumpahan itu karena pengisian CPO dan muncul retakan di lambung kiri tongkang. Kami meminta Pelindo untuk kembali menyisir untuk menangani kejadian ini. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” kata Kurniavan di Sampit, Sabtu.

Pencemaran akibat kebocoran CPO pertama kali diungkap Wakil Ketua DPRD Kotavaringin Timur Rudianur yang berkunjung ke Pelabuhan Bagendang, Jumat (8/8) pagi. Ia melihat CPO berlayar di samping kapal di pelabuhan yang dioperasikan PT Pelindo III Sampit.

Menyusul temuan tersebut, Kurniavan mengunjungi pelabuhan Bagendang. Ia didampingi pejabat dari Kantor dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Sampit dan Dinas Transportasi Cotawaringin Timur.

Mereka diterima masuk ke jajaran PT Pelindo III Sampit. Mereka mengamati lokasi ditemukannya KPO terapung yang mencemari Sungai Mentaya.

Menurut Kurniavan, hasil penelusuran menunjukkan bahwa CPO telah tumpah atau bocor dari lambung tongkang yang retak. Kebocoran terjadi saat menuangkan CPO ke tongkang.

Kurniavan mengucapkan terima kasih kepada PT Pelindo III Sampit atas respon cepat terhadap kebocoran CPO. Kurniawan mengatakan sungai di kawasan itu normal dan bersih dari tumpahan minyak CPO.

Kurniavan mengatakan kunjungannya dilakukan sebagai pemeriksaan awal. Ia memastikan, masalah tersebut akan diusut dan ditangani bersama KSOP Sampit dan pihak terkait.

Menurut informasi yang diterima, kapten kapal diinterogasi tentang insiden itu. Menurutnya, tanggung jawab atas kejadian tersebut juga harus ditanggung oleh regulator, pemasok sarana dan prasarana, serta pemilik angkutan.

“Jika masih banyak lagi pelanggaran, kami akan terus meminta kepada pihak terkait untuk memberikan sanksi yang tegas, karena kami pasti tidak ingin lingkungan kami tercemar akibat tindakan yang terjadi. kesalahan manusia ini,” kata Kurniavan.

Selama ini Komisi IV berulang kali mengingatkan perusahaan perlunya menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam operasionalnya. Jika Anda mematuhinya, dia percaya bahwa fenomena yang tidak diinginkan dapat dicegah atau diminimalkan dampaknya.

Pengoperasian pelabuhan harus memperhatikan kelestarian lingkungan. Selain itu, perusahaan harus mengutamakan keselamatan seluruh pekerja.

Akibat kunjungan Komisi IV ke sejumlah Terminal Khusus (Continuous) dan Terminal Kepentingan Pribadi (TUKS) baru-baru ini, masih banyak penyimpangan prosedur yang perlu ditindaklanjuti.

“SOP-nya harus dilakukan. Mengutamakan keselamatan karyawan, terutama saat pandemi COVID-19 masih ada. Tadi saya lihat ada pegawai yang tidak menggunakan masker. Jangan biarkan hal-hal kecil berubah menjadi bom waktu. Selain mencegah pencemaran lingkungan, keselamatan karyawan juga harus menjadi prioritas, kata Kurniavan.

Artikel sebelumyaAktivis: Pajak cukai dalam eksplorasi dan produksi merangsang permintaan untuk produk plastik daur ulang
Artikel berikutnyaMensos janji bangun rumah korban banjir di Sentani