Beranda Warganet DP2KB kirim 993 tim bantu keluarga berisiko stunting

DP2KB kirim 993 tim bantu keluarga berisiko stunting

Siap menjadi ibu yang kuat dan melahirkan anak yang sehat

Mataram (ANTARA) – Badan Penanggulangan Kependudukan dan Keluarga Berencana Mataram, Nusa Tenggara Barat, menerjunkan 933 Tim Pendamping Keluarga untuk mendata keluarga berisiko stunting atau anak stunting.

Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Mataram Moh Karnoto di Mataram, Kamis mengatakan, Tim Pendamping Keluarga terdiri dari tiga orang, terdiri dari bidan, staf PKK, dan tenaga medis.

“Kami mengirim tim ini untuk mendapatkan data nyata tentang keluarga yang memenuhi kriteria risiko ‘berdasarkan nama demi alamat’ untuk stunting,” katanya kepada wartawan.

Menurutnya, salah satu kriteria keluarga yang berisiko melahirkan bayi pendek adalah usia ibu: terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan jarak antar kelahiran terlalu dekat.

Data yang dikumpulkan oleh tim dukungan keluarga akan menjadi database untuk berbagai program intervensi jangka panjang.

“Setelah kami memiliki data, kami akan dapat melakukan intervensi komprehensif bekerja sama dengan organisasi perangkat keras daerah (OPD) terkait sesuai dengan wilayahnya,” katanya.

Misalnya, saat ini Dinas Kesehatan sedang melaksanakan Program Gizi Tambahan Balita untuk perbaikan gizi.

Kedepannya diharapkan lebih banyak lagi program pencegahan dari OPD lain untuk mengurangi angka kejadian bayi kecil. Artinya pengolahan dilakukan dari atas ke hilir yaitu melalui pendidikan remaja khususnya remaja putri.

“Bagaimana para remaja putri ini bisa makan dengan benar, menjalani pola hidup sehat, dan siap menjadi ibu yang kuat dan melahirkan anak yang sehat,” ujarnya.

Menurut dia, data kasus bayi stunting di Kota Mataram berdasarkan hasil penimbangan balita pada Agustus 2022 tercatat 17,33 persen dari 94 persen data balita yang masuk.

Jumlah bayi kerdil di Kota Mataram mengalami penurunan sebesar 17,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada tahun 2021 yang mencapai 24,3 persen.

“Makanya kami akan terus bekerja sama dengan pihak terkait untuk menghentikan perawakan pendek di kota ini,” kata Carnoto.

Artikel sebelumyaAHY: Demokrat jangan terjebak politik identitas
Artikel berikutnyaRuang pameran fosil purbakala di Museum Patiyam Kudus telah diperluas.