Beranda Warganet Dosen FKUI memberikan saran untuk meningkatkan saturasi oksigen

Dosen FKUI memberikan saran untuk meningkatkan saturasi oksigen

Saturasi oksigen adalah persentase hemoglobin (Hb) yang mengikat oksigen.

Depok (ANTARA) – Dosen Respirologi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI/RSCM) Dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, Sp. PD-KP., KIC., Menjelaskan beberapa cara untuk meningkatkan saturasi oksigen guna menjaga kestabilan saturasi oksigen.

“Untuk meningkatkan saturasi oksigen, Anda perlu memastikan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan, berolahraga secara teratur, mengkonsumsi zat besi dan menghindari merokok,” kata dokter. Seva dalam keterangannya, Minggu.

Seva membicarakan hal ini pada Seminar Online Kuliah Terbuka ke-10 D’Rossi tentang Tetap Tenang di Puncak Pandemi, yang menampilkan Memahami Saturasi Oksigen Darah Kritis pada Pasien COVID-19.

Dia mengatakan bahwa metode ini mungkin terdengar klise, tetapi ini adalah cara klasik yang telah terbukti mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Menurut dr Seva, pasien COVID-19 yang memiliki kadar oksigen rendah dapat mengalami hipoksia bahagia, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan saturasi rendah tetapi tanpa gejala.

“Saturasi oksigen adalah persentase hemoglobin (Hb) yang mengikat oksigen, atau saturasi Hb teroksigenasi,” jelas Dr. Seva.

Saturasi oksigen seseorang dapat diukur menggunakan alat yang disebut oksimeter. Pengukuran dilakukan dengan menjepit oksimeter ke jari Anda. Saturasi oksigen kemudian akan diukur berdasarkan jumlah cahaya yang dipantulkan oleh sinar inframerah yang diarahkan ke kapiler.

Dia mengklaim bahwa orang dengan COVID-19 cenderung memiliki kadar oksigen darah yang rendah. Hal ini karena sirkulasi oksigen pada pasien terhambat oleh infeksi virus di paru-paru, yang menyebabkan penumpukan cairan yang membuat oksigen sulit masuk ke dalam tubuh.

Dua hal yang dapat mempengaruhi saturasi oksigen, yaitu sistem peredaran darah dan fungsi paru-paru. Pada pasien COVID-19, gangguan pernapasan dapat disebabkan oleh dua alasan, yaitu gagal napas dan tromboemboli (penggerak gumpalan darah).

Artikel sebelumyaBantuan dengan subsidi penggajian untuk mencegah PHK
Artikel berikutnyaPemkab Kupang siapkan lahan pemakaman dua hektar untuk pasien COVID-19