Beranda Warganet Dinas Kesehatan Jember: Siswa Meninggal Bukan Karena Vaksin COVID-19

Dinas Kesehatan Jember: Siswa Meninggal Bukan Karena Vaksin COVID-19

Jember, Jawa Timur (ANTARA) – Pj Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, dr Lilik Lailia mengatakan, seorang mahasiswi bernama Rachel tidak meninggal karena vaksin COVID-19 berdasarkan hasil skrining di RSUD Balung, Kabupaten Jember. …

“Kesimpulan kelompok, berdasarkan pemeriksaan laboratorium dan diagnosa, korban meninggal bukan karena vaksinasi, tetapi korban meninggal karena sepsis,” katanya, Rabu di Kabupaten Jember, Atim.

Rachel Pratama (15) meninggal dunia setelah beberapa hari menyuntikkan vaksin COVID-19 di SMA Negeri 1 Kencong pada 10 September 2021 dengan bantuan Chakru Medical Center, Kabupaten Kenkong.

Dinas Kesehatan Jember membentuk tim untuk mengusut kematian korban, menjelaskan kepada keluarga korban, SMAN 1 Kencong tempat korban bersekolah dan divaksinasi, Puskesmas Cakra yang mengirimkan tenaga kesehatan untuk divaksinasi di RSUD Balung, dimana yang terakhir dirawat korban.

“Vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan. Jika infeksi disebabkan oleh suntikan, biasanya ada bekas merah di tempat suntikan, yang merupakan tanda peradangan, dan kami tidak menemukannya di tubuh korban, ”katanya.

Ia mengatakan jangka waktu dari vaksinasi hingga kematian tercatat sembilan hari, dan menurut penelitian di sekolah, korban masih aktif bermain sepak bola.

“Korbannya saya tidak tahu kapan terkena sepsis, karena masa vaksin mati itu sembilan hari. Infeksinya bisa macam-macam, dan kalau infeksi injeksi biasanya ada pembengkakan atau peradangan, tapi tidak. ” “, – katanya.

Lilik menjelaskan bahwa vaksin COVID-19 didapat dari virus, namun berdasarkan hasil laboratorium, korban tidak meninggal karena virus, dan kelompoknya juga memberikan penjelasan kepada keluarga korban.

“Sejauh ini sudah ada dua laporan warga yang meninggal setelah divaksinasi COVID-19, yakni di kecamatan Ajung dan Kenkong, namun hasil survei menunjukkan orang tersebut tidak meninggal karena COVID-19.

Artikel sebelumyaKepala Desa Tulungagunga itu dituntut denda Rp 12,5 juta karena melanggar prosedur.
Artikel berikutnyaPolres Samosir di Sumut mengungkap kasus perjudian dan prostitusi