Beranda Hukum Densus tengah gencar mengusut terduga teroris AR, tokoh sentral JI.

Densus tengah gencar mengusut terduga teroris AR, tokoh sentral JI.

Dari waktu ke waktu, ternyata AR menjadi mata rantai penting dalam perjalanan JI.

Jakarta (ANTARA) – Satuan Tugas Khusus Penanggulangan Terorisme Polri intensif mengusut terduga teroris berinisial AR alias T, salah satu tokoh sentral pergerakan jaringan teroris Jemaah Islamiyah (JI), yang ditangkap pada Jumat (9/10)…

“Menyusul penangkapan tersebut, AR saat ini sedang dalam pemeriksaan intensif untuk lebih memperdalam berbagai ide dan strategi yang disiapkan untuk Jamaa Islamiyah di masa depan,” kata salah satu anggota Unit Kontraterorisme 88 Kombes Polri Paul Aswin Siregar. keterangan tertulis diterima di Jakarta Kamis malam.

Nama samaran AR T mengacu pada Abu Rusidan. Menurut catatan Densus 88 Antiteror Polri, AR alias T merupakan petinggi organisasi Jamaa Islamiyah (JI). Salah satu penyusun Pedoman Umum Gerakan Jamaah Islamiyah (PUJI) tahun 1998, yang kemudian menjadi ruh utama metodologi JI Amalia.

Aswin mengatakan dari PUPJI-lah Paravijayanto, emir baru JI sejak 2008, mengembangkan metodologi gerakannya dengan strategi pengendalian wilayah “Total Amniyah System Total Solution (TASTOS)” (Tamkin) dengan fokus pada “Jihad” global.

“Dari waktu ke waktu ternyata AR merupakan pertigaan penting di jalur JI,” kata Eswin.

A.R. ditangkap pada 2003 dan divonis 3,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena menyembunyikan pelaku bom Natal 2000.

Meski begitu, kata Eswin, penjara tidak pernah menahannya, dan A.R. berlanjut hingga tertangkap lagi pada Jumat (9 Oktober) pekan lalu.

Penangkapan A.R. dihasilkan setelah Tim 88 Regu Antiteror Polri menemukan titik terang dari hasil penangkapan sebelumnya terhadap beberapa anggota JI yang menyatakan bahwa AR masih menjadi salah satu focal point gerakan JI.

Bahkan terbukti AR sering muncul di berbagai acara Syam Organizer, salah satu lembaga yang menjadi tuan rumah dan menyalurkan dana untuk JI, di mana beberapa pengurus dan donaturnya berhasil ditemukan dan ditangkap oleh Denus 88 Antiteror Polri pada Agustus 2021. . …

Menurut Aswin, sejarah panjang A.R. di JI mengungkapkan bahwa ia sengaja tidak menjadi bagian dari struktur organisasi JI, agar tidak diendus oleh pihak berwenang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, lanjut Asvin, diketahui bahwa A.R. adalah pendukung metode militer (Tanzim Askari), yang melanjutkan JI dan memelihara hubungan dengan para militan di Afghanistan.

Menurut penemuan lain, A.R. adalah pendukung kuat JI, selalu mendukung perjuangan rakyat Moro dan Suriah untuk realisasi Nubuwa di Syam baru-baru ini.

Tak hanya itu, lanjut Aswin, AR merupakan pengembang Multazim bin Multazim (anak ayah) di pusat pelatihan teroris JI yang dikenal dengan Sasana.

Aswin menegaskan AR merupakan pengembang utama dalam perkembangan Masa Persiapan Teror (Iadad), rekrutmen anggota baru, kebijakan JI saat darurat, sanksi bagi anggota JI yang tidak disiplin.

AR juga ada di berbagai platform media sosial. Tausiya-nya didistribusikan dalam bentuk video, yang terutama membahas pentingnya jihad untuk mewujudkan kedaulatan negara Islam, menjelaskan para “jihadis” di Afghanistan dan Suriah, melarang demokrasi dan menyalahkan perbedaan pendapat.

“Beberapa teroris yang ditangkap di lingkungan mereka sering dikenal sebagai pendakwah, tetapi pada dasarnya mereka adalah jaringan teroris, kita tidak bisa disesatkan,” kata Eswin.

Sejumlah catatan keterlibatan Azerbaijan dalam pergerakan organisasi teroris menjadi bukti bahwa Detasemen 88 Antiteror Polri diminta menghadirkan tokoh sentral JI dalam rangka pencegahan terorisme dan penindakan di dalam negeri. .

“Densus 88 selalu memantau tersangka teroris dengan sangat detail sebelum ditangkap, dan kami menangkap mereka setelah kami memiliki bukti yang cukup,” tambah Eswin.

Artikel sebelumyaTersangka korupsi dana COVID-19, mantan Bupati Mamberamo Raya ditangkap
Artikel berikutnyaPartai NasDem punya tujuan "kekebalan kolektif" cegah kasus COVID-19