Beranda Nusantara Denmark berpikir Indonesia dapat menangani sampah laut

Denmark berpikir Indonesia dapat menangani sampah laut

Jakarta (ANTARA). Menteri Lingkungan Hidup Denmark Lea Vermelin yakin Indonesia dapat mengatasi masalah pencemaran plastik dan sampah laut dengan menerapkan konsep ekonomi sirkular.

“Saya yakin konsep ekonomi sirkular bisa diterapkan di Indonesia,” katanya di Paviliun Indonesia di Glasgow, Skotlandia, yang diikuti secara online dari Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan, konsep ekonomi sirkular telah menjadi fokus perhatian di seluruh dunia. Konsep ini sangat bermanfaat bagi alam dan lingkungan karena ekonomi sirkular dapat meminimalisir sampah.

Di sisi lain, peringkat Indonesia dalam hal produksi sampah plastik dunia sudah berada di peringkat teratas peringkat global, dan ini menjadi bahan perbincangan di berbagai forum. Mikroplastik banyak ditemukan pada ikan dan makanan.

“Terkait masalah sampah plastik di lautan dan pengelolaan sampah, saya yakin kunci dari semua ini adalah transisi ekonomi ke ekonomi sirkular,” katanya.

Dia mengatakan bahwa meskipun ada banyak perbedaan antara Denmark dan Indonesia, kedua negara juga memiliki sejumlah kesamaan.

“Kedua negara itu adalah negara kepulauan. Hidup kita bergantung pada lautan. Kami sadar bahwa pembuangan sampah ke lautan akan berdampak pada negara, kesehatan penduduk dan perekonomian,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa pada tahun 1990, Denmark mengadopsi peraturan tentang limbah konstruksi, situasi ini telah mempengaruhi peningkatan volume daur ulang limbah konstruksi. “Saat ini, 88 persen limbah konstruksi di Denmark didaur ulang. Hanya lima persen yang masuk ke TPA,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berbicara tentang perkembangan Sungai Sitarum yang pernah disebut sebagai sungai terkotor di dunia.

Dikatakannya, saat ini perkembangan pengolahan Sungai Tsitarum terus membaik dan sungai sudah mulai pulih.

Menurutnya, pada tahun 2018, aliran Sungai Tsitarum sangat kotor karena tercemar sampah, terutama sampah plastik. “Kami sudah mengorganisir semua pemangku kepentingan di Jawa Barat dalam tiga tahun dan sekarang kualitas airnya lebih baik. Ikan sudah mulai lebih sering muncul,” ujarnya.

Artikel sebelumyaWWF: 444 kasus mamalia laut terdampar di Indonesia dalam lima tahun
Artikel berikutnyaKalsel waspada cuaca ekstrim