Beranda Warganet CEO BRIN membuka Institut Teknologi Nuklir Politeknik Indonesia

CEO BRIN membuka Institut Teknologi Nuklir Politeknik Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meresmikan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) yang berubah status menjadi Institut Politeknik Nuklir Indonesia di Yogyakarta.

“Melalui transformasi ini, Institut Politeknik Teknologi Nuklir diharapkan menjadi pusat pendidikan vokasi terkait teknologi nuklir tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan,” kata Kepala BRIN Tri Handoko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta. , Sabtu.

Dengan dibukanya Politeknik Teknologi Nuklir akan semakin terbuka, memiliki hubungan yang kuat dengan industri, lembaga penelitian dan universitas, menghasilkan lebih banyak inovasi, dan mampu memperkuat Indonesia dengan aplikasi teknologi nuklirnya.

Izin perubahan bentuk sekolah menengah menjadi politeknik dikeluarkan oleh Kemenpan RB No. B/642/M.KT.01/2021 tanggal 29 Juni 2021.

Pembukaan Institut Politeknik ini merupakan kelanjutan dari SK BRIN No. 13 Tahun 2021 yang telah diundangkan pada tanggal 28 Oktober 2021, serta SK Pemerintah No. 4 tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

Perubahan kelembagaan tersebut sejalan dengan amanat Menristekdikti Nomor 54 Tahun 2018 untuk melaksanakan program diploma dalam sistem pendidikan tinggi terbuka.

Menurut ketentuan ini, program pelatihan vokasi dapat diselenggarakan oleh perguruan tinggi sampai dengan program sarjana, pascasarjana atau doktor terapan.

Sementara STTN sebelumnya hanya menjalankan program gelar IV.

Perubahan kelembagaan juga harus diikuti dengan penguatan program pelatihan vokasi secara optimal, efektif, efisien dan berkualitas sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dan kebutuhan industri dan dunia kerja.

Untuk itu BRIN bersama seluruh pimpinan Politeknik Institut Teknologi Nuklir menargetkan peningkatan status akreditasi A dari akreditasi B saat ini menjadi 1000 mahasiswa dari 400 mahasiswa saat ini.

Selain itu, juga bertujuan untuk menambah jumlah program studi sesuai dengan perubahan atau kebutuhan zaman dan menyelenggarakan program magister dan doktor terapan.

BRIN dan Polytechnic Institute juga akan meningkatkan kualitas dengan memperkuat “global engagement” dengan institusi pendidikan tinggi dan institusi penelitian sejenis di luar negeri.

Handoko mengatakan untuk mencapai tujuan tersebut, BRIN akan mendukung penuh melalui beberapa kebijakan khusus, antara lain pembebasan biaya masuk dan biaya kuliah tetap untuk semua mahasiswa di Institut Teknologi Nuklir Politeknik mulai semester depan.

Kebijakan selanjutnya meliputi penyediaan asrama bagi mahasiswa tahun pertama dan kedua, rehabilitasi dan integrasi infrastruktur, serta program pendidikan dan penelitian dengan BRIN Babarsari.

Kemudian, peningkatan jumlah dan kualitas fakultas dengan percepatan pengembangan profesi melalui penambahan penelitian magister/S3, peningkatan mobilitas SDM antara Politeknik Institut Teknologi Nuklir dengan BRIN berupa peneliti di BRIN Babarsari dan fasilitas nuklir lainnya.

Selain itu, BRIN mengerahkan peneliti BRIN untuk menjadi dosen di politeknik dan memobilisasi pensiunan untuk menjadi dosen.

BRIN juga mendorong seluruh guru dan siswa untuk menguasai bahasa Inggris.

Edi Giri Rahman Putra, Deputy HR Department Iptek BRIN, mengatakan perubahan status menjadi politeknik institut akan menjadi tantangan baru baik dalam sistem pelatihan maupun penguatan sumber daya manusia (SDM).

“Tantangan ke depan adalah bagaimana mengantisipasi lingkungan strategis baik di dalam negeri maupun internasional, bagaimana pelatihan dapat menghasilkan dan memperkuat SDM unggul di bidang teknologi nuklir, serta menjadikan lulusan berdaya saing global,” ujarnya.

Pada kesempatan ini juga dilakukan pelantikan pejabat Politeknik Institut Teknologi Nuklir.

Edi berharap para pejabat pengukuhan mampu meletakkan dasar yang kokoh sebagai satu-satunya perguruan tinggi profesional nuklir di Indonesia dan sangat jarang ditemui di tempat lain.

Beliau membahas pentingnya penguatan jejaring dan kerjasama dalam pengembangan Laboratorium Pembelajaran Nuklir/Industri Pendidikan Teknologi Nuklir dengan pemangku kepentingan lokal dan asing.

Selain itu, diharapkan Politeknik Institut Teknologi Nuklir dapat bekerja sama untuk mengubah paradigma, semangat, budaya, visi dan cita-cita untuk menjadikan Institut Politeknik global sejalan dengan visi dan misi Institut Politeknik Indonesia. Teknologi Nuklir.

Menurutnya, program Nuclear Teaching Industry (NTI) diluncurkan sebagai bagian dari program “Link and Match” antara perguruan tinggi dan industri.

“Saya berharap program ini semakin berkembang ketika STTN menjadi politeknik,” ujarnya.

Ia mengatakan industri telah menjadi mitra untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa dan platform nyata untuk belajar untuk meminimalkan kesenjangan antara teori dan praktik di dunia kerja.

Sebagai lulusan perguruan tinggi profesi, salah satu keunggulan dan keunggulan kompetitif mahasiswa adalah pemberian Surat Izin Kerja Petugas Proteksi radiasi (SIB PPR) kepada mahasiswa.

SIB PPR adalah izin yang wajib dimiliki oleh pengguna zat radioaktif, baik perusahaan maupun lembaga pengguna zat radioaktif.

Selain Sertifikat PPR Industri, mahasiswa juga ditawarkan Sertifikat Kompetensi tambahan, yaitu: SIB PPR Medis, Pengujian Ultrasound Level 2 dan Izin Operator Radiografi.

Artikel sebelumyaBMKG memberikan peluang iklim maritim kepada nelayan dari Lembata
Artikel berikutnyaPengaduan Masyarakat Riset Polisi Tentang Pinjaman Ilegal