Beranda Warganet Buah pemerintah Simalakam bantu atasi pandemi COVID-19

Buah pemerintah Simalakam bantu atasi pandemi COVID-19

Surabaya (ANTARA) – Sudah lebih dari setahun kita menghadapi pandemi COVID-19. Pemerintah dan komponen masyarakat lainnya tidak hanya bekerja keras untuk mengurangi jumlah pasien tambahan, tetapi juga untuk meningkatkan angka kesembuhan.

Pada saat yang sama, pemerintah juga menghadapi masuknya informasi yang salah yang didorong oleh prasangka, sehingga menghambat upaya pemberantasan epidemi yang telah menghancurkan hampir semua sektor kehidupan, terutama ekonomi.

Injeksi vaksin, yang merupakan upaya kolaboratif untuk membangun kekebalan kawanan, telah dirusak oleh informasi palsu bahwa cairan itu mengandung zat mematikan secara perlahan atau microchip dari negara-negara produsen vaksin untuk memata-matai orang Indonesia.

Perwakilan Gugus Tugas COVID-19 Vicu Bakti Bavono Adisasmito memastikan vaksin COVID-19 tidak mengandung magnet.

Ia meminta seluruh elemen masyarakat untuk selalu mengecek informasi yang diterima, mencari fakta berdasarkan informasi berdasarkan bukti ilmiah dan berita yang berasal dari media atau saluran resmi.

Ia mengatakan, hoax juga dapat menghambat upaya pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19 di Indonesia.

Sebelumnya, fisikawan dari US National High Magnetic Field Laboratory Eric Palm membenarkan bahwa microchip magnetik tidak dapat digunakan saat menyuntikkan vaksin COVID-19.

Dia menjelaskan bahwa ukuran jarum vaksin yang sangat kecil, sepersekian milimeter, hanya dapat mentolerir partikel magnetik tingkat yang sangat rendah.

Bahkan, katanya, menurut laporan BBC, jika seseorang menyuntikkan partikel yang sangat kecil, gayanya tidak akan cukup untuk menahan magnet yang menempel di kulit.

Ketika berita microchip dibantah oleh argumen ilmiah, serangan lain muncul, seperti suntikan vaksin justru membuat orang sakit dan kemudian mati. Hal ini juga ditentang oleh penjelasan ilmiah para profesional medis.

Berita samar lainnya yang juga beredar adalah niat buruk pemerintah, terutama dari kalangan tenaga kesehatan yang sengaja menyebut semua pasien yang dirawat di rumah sakit sebagai pasien COVID-19 untuk memberi insentif kepada penyedia layanan kesehatan. Dampak dari masalah ini banyak warga yang enggan berobat ke rumah sakit akibat sindrom COVID-19.

Bahkan, di beberapa daerah, rumah duka bagi penderita COVID-19 menghadapi kekerasan langsung dari warga. Warga merampas jenazah dan menguburnya tanpa standar penguburan jenazah penderita COVID-19. Kemudian warga membakar peti mati tersebut. Seringkali, pengurus pemakaman juga dianiaya oleh warga, baik secara lisan maupun fisik.

Sejumlah tenaga kesehatan yang menangani langsung pasien virus corona jenis baru ini mengungkapkan isi hatinya melalui status media sosial. Apalagi tenaga medis honorer yang mengaku bekerja dengan risiko penuh dan upah rendah kemudian dicap memanfaatkan penderitaan orang lain untuk keuntungan. Padahal, pekerja honorer hanya menerima honor sekitar Rp 300.000 per bulan.

Hal yang tak kalah dipermasalahkan adalah kebijakan pemerintah untuk memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat di tengah angka positif COVID-19 yang terus meningkat.

Objek pembatasan yang paling sensitif adalah pembatasan tempat ibadah, sedangkan kegiatan ekonomi seperti pasar atau pusat perbelanjaan tetap buka. Ulama kemudian menjelaskan dalil bahwa ibadah bisa dilakukan di rumah, sedangkan pasar yang sangat membutuhkan kehadiran pedagang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tidak bisa dilaksanakan di rumah.

Kemudian ditambahkan masalah bahwa kebijakan ini adalah kerja politik dengan motif ideologis, yang bertujuan membatasi aktivitas umat beragama. Komunis adalah biang keladi dari semua ini. Hal ini memang menjadi isu yang sangat sensitif karena negara kita pernah mengalami sejarah traumatis pada tahun 1965-an atau sebelum dan sesudahnya, terkait dengan tindakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Seperti halnya buah simalakam, setiap kebijakan pemerintah akan dianggap salah. Misalnya, jika pemerintah tidak memberlakukan kebijakan restriktif, termasuk di tempat-tempat ibadah, hampir pasti pemerintah juga akan dianggap salah. Akan diakui bahwa pemerintah membiarkan epidemi ini menyebar.

Begitu sampai di wilayah itu, kebanyakan orang tidak percaya bahwa virus ini ada. Mereka bahkan menunjukkan sikapnya dengan tidak pernah mau memakai masker saat keluar rumah. Pada pertengahan 2021, sebuah pandemi pecah di daerah itu dan banyak pasien kemudian meninggal. Kasus seperti ini menjadi sarana efektif untuk mengingatkan masyarakat bahwa virus ini memang ada, namun risikonya sangat tinggi dan berujung pada banyak kematian.

Peran karakter

Untuk melaksanakan segala upaya memerangi pandemi ini, pemerintah telah melibatkan seluruh elemen di luar pemerintah, terutama tokoh agama dan masyarakat. Mengingat masifnya narasi yang menentang semua kebijakan tersebut, pelibatan tokoh agama dan masyarakat perlu didukung agar masyarakat bisa bersatu padu mengatasi pandemi ini.

Pangdam V Kodama V/Kolonel Brawijaya (CPM) Moh Sawi yang merupakan pengawas pelaksanaan PPKM dan kepatuhan protokol pencegahan COVID-19 di wilayah Kodim Sumenep, Madura, mengakui peran tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat untuk berpartisipasi bersama dalam pemberantasan wabah ini.

Program vaksinasi yang masih ditolak di beberapa daerah pedesaan, peran tokoh agama sangat dibutuhkan untuk turun menyapa dan mendampingi masyarakat, menyampaikan argumentasi agama bahwa menjaga kesehatan juga dalam rangka menjalankan sila agama.

Peran para pemimpin agama ini dalam budaya Indonesia melampaui gerakan-gerakan penting yang dipimpin oleh pemerintah. Mereka, yang menganut agama apa pun, diam-diam, bersama dengan para pengikutnya, berdoa untuk keselamatan umat ini. Kami percaya bahwa para pemuka agama ini memiliki komitmen yang kuat untuk melestarikan warisan perjuangan leluhur di masa lalu sehingga akan terus terpelihara tidak hanya secara fisik, tetapi juga moral.

Peran pemimpin agama dalam keheningan bekerja seperti efek kupu-kupu. Seperti dikutip wikipdeia, istilah ini pertama kali digunakan oleh Edward Norton Lorenz (ahli matematika dan meteorologi Amerika), merujuk pada gagasan bahwa beberapa bulan kemudian, kupu-kupu yang mengepak di hutan belantara Brasil secara teoritis dapat menyebabkan tornado di Texas.

Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem, yang ketergantungannya sangat sensitif terhadap kondisi awal. Perubahan kecil pada kondisi awal dapat secara drastis mengubah perilaku sistem dalam jangka panjang. Doa para pemuka agama tidak hanya menggetarkan langit, tetapi juga membawa energi positif bagi seluruh warga bangsa.

Menurut ajaran agama, penyakit ini adalah sesuatu yang menimpa Tuhan, maka Yang Maha Kuasa juga akan menghentikannya. Artinya, upaya pemerintah memerangi pandemi ini, termasuk program vaksinasi, juga mendapat dukungan energi batin dari sekelompok “orang pendiam” yang kekuatannya menembus ruang dan waktu. Inilah sebabnya mengapa kita yang dikenal sebagai bangsa spiritual harus optimis bahwa wabah ini akan segera berakhir.

Artikel sebelumyaPekerjaan pemadam kebakaran di Pemulutan Ogan Ilir
Artikel berikutnyaWagub Jateng Ajak Mahasiswa Berinovasi Percepat Vaksinasi