Beranda Nusantara BPBD Bantul mencatat tujuh kejadian cuaca ekstrim

BPBD Bantul mencatat tujuh kejadian cuaca ekstrim

Situasi di daerah akibat hujan di Bantul mungkin masih berkembang

Bantul (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat sedikitnya tujuh kejadian cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang melanda kawasan itu sejak Senin (10 Maret) sejak dini hari hingga dini hari. .

“Laporan sementara yang diterima sebanyak tujuh lokasi kejadian dengan rincian empat longsor, dua pohon tumbang dan satu banjir atau banjir,” kata Kepala BPBD Bantul Agus Yuli Hervanto, saat dikonfirmasi di Bantul, Senin.

Menurut dia, tujuh kejadian telah meluas ke beberapa kecamatan, yakni kecamatan Piyungan, Kretek, Imogiri dan Dlingo, namun kejadian tersebut masih memungkinkan perkembangan karena data yang dilaporkan masih awal.

“Jadi ini laporan sementara dari Pusdalops (Pusat Kendali Operasi) tentang perkembangan situasi wilayah akibat hujan di Bantul, mungkin masih berkembang, laporannya masuk sekitar pukul 07.40 WIB dan acara akan dihadirkan kembali,” ujarnya. . .

Namun, menurut dia, akibat kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa dan kerugian materiil bagi penduduk, hanya beberapa sarana dan prasarana yang rusak akibat hujan yang berlangsung lebih dari lima jam.

“Belum ada informasi mengenai mereka yang mengungsi akibat kejadian tersebut, sejauh ini belum ada laporan. Kalau rusak ya seperti jembatan ambruk, tapi ada jalan yang juga rusak (longsor di pinggir jalan),” ujarnya.

Ia juga mengatakan, hujan yang menyebabkan sungai-sungai di daerah Bantul ikut membanjiri juga turut menyebabkan rusaknya jembatan yang saat ini masih dalam penilaian tim lapangan.

“Ada kemungkinan jembatan di salah satu sungai Vepr itu dinilai retak. Kami akan segera merangkum penilaian teman-teman kami di lapangan,” ujarnya.

Terkait kejadian ini, pihaknya mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam untuk mewaspadai ancaman tersebut, apalagi di musim hujan ini potensi bencana hidrometeorologi.

“Jadi kalau Kabupaten Bantul punya potensi ancaman bencana alam ganda, dan sekarang ancamannya banjir, tanah longsor, mungkin puting beliung nanti, itu namanya bencana hidrometeorologi,” katanya.

Artikel sebelumyaWALHI memperingatkan bahwa kedaulatan negara bisa terancam oleh perubahan iklim
Artikel berikutnyaWalhi: Indonesia butuh undang-undang perubahan iklim untuk keadilan iklim