Beranda Warganet BNPB: NTB Tingkatkan Ketahanan Pasca Gempa Agustus 2018

BNPB: NTB Tingkatkan Ketahanan Pasca Gempa Agustus 2018

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan Provinsi Nusa Tenggara Barat memperkuat ketahanan setelah tiga tahun gempa berkekuatan 6,9 pada 5 Agustus 2018 yang merusak 137.658 rumah dan menewaskan 526 orang.

“Ketahanan masyarakat pra dan pasca bencana dapat ditingkatkan melalui strategi pengurangan risiko bencana, salah satunya adalah mitigasi,” kata Abdul Muhari, Pj Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi BNPB dalam keterangannya di Jakarta: Kamis.

Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mitigasi adalah serangkaian upaya pengurangan risiko bencana alam, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kapasitas dalam menghadapi ancaman bencana.

Tindakan mitigasi dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, seperti pelaksanaan penataan ruang, kegiatan pembangunan, pembangunan infrastruktur, perencanaan pembangunan dan penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan dan pelatihan baik secara tradisional maupun modern. Pendekatan ini biasanya diklasifikasikan ke dalam mitigasi struktural dan non-struktural.

“Hingga saat ini, perbaikan rumah warga BTB yang rusak masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah. Menurut data BNPB, per 9 Juli 2021, total 211.820 rumah telah selesai dibangun, 14.610 rumah sedang dibangun, dan jumlah “rumah yang rusak adalah total kerusakan akibat gempa sejak 29 Juli 2018 hingga 19 Agustus. 2018,” kata Abdul.

Selama proses pemulihan gempa, pemerintah selalu menekankan prinsip membangun lebih baik dan lebih aman, terutama dalam memulihkan rumah yang rusak.

Masyarakat kemudian memanfaatkan berbagai teknologi rumah tahan gempa yang ditawarkan, seperti rumah makan cepat saji sederhana yang sehat (risha), rumah kayu cepat saji (rika), dan sistem panel instan yang disempurnakan (ruspin).

Warga NTB sangat perlu merestorasi rumah dengan struktur tahan gempa. Hal ini tidak terlepas dari kondisi alam NTB yang berpotensi menimbulkan gempa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Pulau Lombok merupakan zona seismik aktif. Ada dua pembangkit gempa di sisi selatan, yaitu zona subduksi Lempeng Indo-Australia dan sisi utara, struktur geologi Sesar Naik Flores.

Kondisi “terberikan” ini memerlukan pertimbangan yang matang dari masyarakat setempat. Masyarakat telah mengetahui bahwa kekuatan gempa dapat menyebabkan bencana di daerah mereka.

Besar pengaruhnya tidak hanya terhadap besar kecilnya kerusakan bangunan atau rumah penduduk, tetapi juga terhadap jumlah korban jiwa akibat reruntuhan bangunan yang tidak tahan gempa. BNPB mencatat total korban tewas 564, melukai 1.883 dan menggusur lebih dari 390.000 dalam serangkaian gempa bumi di Nusa Tenggar barat pada saat itu.

Selain mitigasi struktural, masyarakat juga harus memperhatikan upaya non-struktural, hingga ke tingkat keluarga. Semakin tinggi kemampuan individu atau anggota keluarga, semakin sedikit risiko yang dapat dihindari.

“Meskipun masyarakat tinggal di rumah tahan gempa, kesiapsiagaan gempa tetap penting. Gempa bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Dalam situasi seperti itu, setiap anggota keluarga harus merespons dengan tepat, ”katanya.

Dalam skala kecil, masyarakat dapat melakukan penilaian risiko secara mandiri atau dengan bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Setiap keluarga memiliki tingkat risiko yang berbeda, meskipun berada di area yang sama.

Keluarga dapat menggunakan aplikasi inaRISK untuk melihat potensi bahaya gempa bumi dan penilaian cepat sederhana untuk mengetahui stabilitas suatu bangunan menggunakan fitur ACeBS (Simple Rapid Building Assessment) pada aplikasi.

Sementara itu, beberapa faktor dapat mempengaruhi tingkat risiko dalam keluarga, misalnya tingkat pengetahuan tentang teknik evakuasi, definisi titik aman di rumah, anggota keluarga yang cacat, atau persiapan yang tidak memadai untuk gempa.

<< Gempa yang terjadi tiga tahun lalu memberikan banyak pelajaran, mulai dari keadaan darurat terkait bencana hingga pemulihan dan peningkatan kesadaran masyarakat serta membangun ketahanan terhadap bencana alam. Fenomena gempa bumi merupakan suatu keniscayaan, sehingga diharapkan literasi dan pendidikan kebencanaan tumbuh di setiap keluarga. dari generasi ke generasi,” kata Abdul. Melihat kenangan gempa kala itu, aktivitas tektonik yang terjadi pada malam hari pukul 19.46 WITA membuat kaget masyarakat setempat. Shockwave M6.9 merupakan shockwave utama yang sebelumnya mengalami foreshock M6.4 pada 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA. Gempa 5 Agustus melanda daratan 28 km barat laut Lombok Timur, NTB, dengan kedalaman 15 km. Gaya tumbukan diukur dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), menunjukkan daerah MMI Mataram VII, Bima, Karangasem, Denpasar V – VI MMI, Kuta III – IV MMI, Waingapu III MMI, Banyuwangi, Situbondo, Malang II. – III MMI. Selain itu, gempa berkekuatan besar kembali terjadi pada 9 Agustus 2018 pukul 13.25 waktu setempat atau Vite. Pusat gempa M5.9 terletak di kedalaman 14 km. Beberapa hari kemudian, pada 19 Agustus 2018, NTB diguncang dua gempa besar, yaitu 6,5 pada 12,10 WITA dan 6,9 pada 22,56 WITA.

Artikel sebelumyaBUMN Pariwisata Bantu Prostesis Jaga Kemandirian Disabilitas
Artikel berikutnyaKemendes PDTT minta BSI berikan layanan perbankan sampai ke pelosok desa