Beranda Nusantara BNPB mengapresiasi kreativitas unsur pentaspiral di Tangguh Awards.

BNPB mengapresiasi kreativitas unsur pentaspiral di Tangguh Awards.

Pada tahun 2021, 1.041 entri telah diajukan untuk kompetisi, termasuk 883 foto, 88 karya video pendek, dan 70 komik.

Ambon (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menganugerahkan Tangguh Awards kepada unsur pentahelix yang memenangkan kompetisi kreatif terkait pendidikan dan dokumentasi bencana alam di tanah air.

“Mereka yang berkontribusi melalui seni merupakan bagian dari unsur pentaspiral dalam penanggulangan bencana di tanah air,” kata Pj Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB Abdul Muhari dalam siaran pers yang diterima di Ambon, Kamis.

BNPB melalui Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana menyelenggarakan kompetisi kreatif bencana tahunan. Lomba tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang akan diselenggarakan di Ambon pada tahun 2021.

Tangguh Awards yang diselenggarakan untuk semua kalangan di Nusantara sejak tahun 2012 telah menjadi wadah untuk membangkitkan minat dan menyalurkan kreativitas masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman di bidang kebencanaan.

Partisipasi Masyarakat dalam Tangguh Awards for Disaster Management Work menghadirkan inovasi kreatif dalam sosialisasi dan edukasi kebencanaan dalam tiga kategori, antara lain fotografi, video pendek, dan komik.

Pada tahun 2021, 1.041 karya telah diikutsertakan dalam kompetisi, termasuk 883 foto, 88 karya video pendek, dan 70 komik yang dikumpulkan dari Juni hingga September 2021.

“Penghargaan Tangguh juga menumbuhkan partisipasi dan kesadaran bersama dalam membuat negara lebih tahan terhadap bencana alam,” katanya.

Penghargaan Tangguh berlangsung pada puncak perayaan Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2021 di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu (20 Oktober).

Abdul Mukhari menjelaskan, berdasarkan penilaian panel juri Tangguh Awards 2021 untuk kategori fotografi, I Wayan Surya Edy Gautama berhasil meraih predikat “Tangguh Bekerja Merawat Jenazah Korban Pandemi dengan Martabat”, dan video pendek Muhammad Risks of Ramadhan bertajuk “Pendidikan gempa dan tsunami” dan komik dimenangkan oleh Nana Maulana dengan judul “Kisah Menjahit Panel Surya”

Penghargaan Tangguh Awards diserahkan langsung oleh Kepala BNPB Ganip Varsito, Sekretaris BNPB Lilik Kurniavan dan Gubernur Maluku Murad Ismail, bertepatan dengan puncak perayaan Bulan PRB di Ambon, Rabu (20/10).

Pemenang kategori fotografi, Y Wayan Surya Edi Gautama, mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan BNPB melalui Tangguh Awards untuk menjadi wadah berkarya dan berbagi ilmu tentang bencana alam.

“Saya berterima kasih kepada BNPB atas apresiasinya, dan semoga dapat terus menginspirasi kita untuk bekerja mendukung upaya penanggulangan bencana,” kata Wayan.

Peduli lingkungan
Abdul Mukhari juga menjelaskan bahwa BNPB memanfaatkan acara peringatan Bulan PRB 2021 bertema peduli lingkungan dan pengetahuan sejarah potensi bencana di Indonesia, menerima kerang raksasa (Tridacna gigas) Kim sebagai piala bagi para pemenang Tangguh Prize.

Salah satu penghargaan yang diberikan kepada para pemenang adalah piala yang dibuat dari kertas daur ulang dan berbentuk seperti fosil kerang raksasa.

“Kerang kim yang ditemukan di perairan timur Indonesia mungkin merupakan penanda bencana geologi yang telah terjadi bahkan ribuan tahun sebelumnya. Kerang ini berada 20 meter di bawah air. Namun beberapa tahun yang lalu, ekspedisi TNI menjelajahi daerah paling terpencil.” Kerang ini berada di ketinggian 154 meter di atas permukaan laut,” ujarnya.

Melihat peristiwa ini, BNPB kembali menganalisis kemungkinan proses geologi seperti gempa bumi dan tsunami. “Ini membuktikan kepada seluruh dunia bahwa wilayah Indonesia memiliki sejarah geologi yang unik dan bisa menimbulkan bencana jika kita tidak mengetahuinya,” kata Abdul Muhari.

Artikel sebelumyaPenduduk Malaumkart Raya terlibat dalam konservasi kelelawar di pulau Um.
Artikel berikutnyaHarimau sumatera dilaporkan telah kembali ke kebun masyarakat di Aceh.