Beranda Nusantara BMKG mengeluarkan peringatan kekeringan untuk kategori Siaga dan Siaga

BMKG mengeluarkan peringatan kekeringan untuk kategori Siaga dan Siaga

Saya berharap informasi ini dapat digunakan sebagai tindakan pencegahan dan pertimbangan ketika mengambil tindakan mitigasi.

Jakarta (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologi dengan kategori Awas dan Awas di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Harjoko mengatakan kemungkinan terjadinya kekeringan meteorologi berdasarkan pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori sangat panjang (31-60 HTH) dan sangat panjang (di atas 60 HTH).

Kategori “Awas” berpotensi di Kabupaten Nusa Tenggar Barat (Kabupaten Bima, Kabupaten Sumbawa), Nusa Tenggar Timur (Kabupaten Alor, Kabupaten Belu, Kabupaten Flores Timur, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten Mangaray Timur, Kabupaten Sikka, Sumbawa Timur Kabupaten), Kabupaten Nusa Tenggara Timur). Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Timur),” kata Urip dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Sedangkan daerah dengan kategori peringatan dengan potensi kekeringan meteorologis berada di Jawa Timur (Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondoso, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Situbondo), Bali (Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem), Kabupaten Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur ( Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada, Kabupaten Sumba Barat).

Lebih detail, Urip melaporkan bahwa beberapa domain NTB dan NTT menggunakan HTH dengan kategori sangat panjang dan sangat panjang.

Kemudian daerah yang mengalami HTH sangat lama adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, NTB dan NTT.

Sedangkan wilayah dengan HTH sangat panjang antara lain Lapé (110), Soromandi (137), Vavo (84), NTB dan Provinsi Atambua/Motabuik (104), Bakunase (137), Balauring (74), Batuliti (125), Boentuca ( 91), Boru (79), Busalangga (61), Kamplong (118), Fatubesi (136), Fatukmetan (65), Fatulotu (115), Kamanggih (135), Mamsena (94), Mapoli (137), Melolo ( 122), Naioni (118), Emofa (136), Epoi (138), Rambangaru (133), Solor Selatan (136), Stamet Mali (79), Vairiang (135), provinsi NTT.

“Terkait pemantauan berulangnya hari-hari kering berturut-turut sebagaimana diuraikan di atas dan prakiraan rendahnya kemungkinan hujan (<20 mm/10 hari), terdapat indikasi kemungkinan terjadinya kekeringan meteorologis,” kata Urip. Dia menjelaskan, dampak kekeringan meteorologi biasanya diikuti oleh, antara lain, berkurangnya pasokan air untuk rumah tangga dan pertanian, serta meningkatnya kemungkinan kebakaran hutan, hutan, lahan, dan pemukiman. “Berkaitan dengan hal tersebut, saya berharap informasi ini dapat digunakan sebagai langkah kehati-hatian dan pertimbangan untuk mengambil langkah-langkah mitigasi dampak kekeringan meteorologis selanjutnya,” lanjut Urip. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG hingga akhir Agustus 2021, hasil pemantauan perkembangan musim kemarau tahun 2021 menunjukkan 85 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau.

Artikel sebelumyaPPKM Terjun, Sekolah di Tangerang Siapkan PTM
Artikel berikutnyaWALHI Bali mengkritisi hasil Tahura Ngurah Rai yang mengurangi luasan hingga 60 hektar